Ekonomi Dunia Kian Lesu, BI Soroti Efek Domino Kebijakan Tarif Amerika
Rabu, 17 Sep 2025, 15:59 WIBJAKARTA â Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian dunia masih dalam tren melambat karena dipengaruhi dampak nyata dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang memicu tensi perdagangan global.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter negara maju juga berpotensi menekan arus investasi dan perdagangan internasional. Bagi Indonesia, dinamika tersebut menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas eksternal sekaligus mendorong pertumbuhan domestik agar tetap resilien di tengah pelemahan global.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2025 secara daring di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa berbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai dengan disparitas pertumbuhan antarnegara.
Di AS, keyakinan pelaku ekonomi menurun seiring implementasi kebijakan tarif yang berdampak pada melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya tingkat pengangguran.
Kinerja ekonomi Tiongkok juga melambat akibat menurunnya ekspor terutama ke AS sebagai dampak tarif resiprokal yang diterapkan AS serta melemahnya permintaan domestik, khususnya investasi.
Ekonomi Eropa dan Jepang juga dalam tren menurun sejalan dengan tertekannya kinerja ekspor. Sementara itu, ekonomi India sedikit meningkat ditopang oleh stimulus fiskal untuk mendorong konsumsi rumah tangga.
âDengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 masih berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, yaitu sekitar 3 persen,â kata Perry.
Ia menambahkan, prospek ekonomi dunia yang belum kuat dan menurunnya tekanan inflasi mendorong sebagian bank sentral menempuh kebijakan moneter akomodatif kecuali di Jepang.
Selanjutnya, BI memandang probabilitas penurunan Fed Funds Rate (FFR) semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan naiknya tingkat pengangguran AS dan juga tren penurunan inflasi di negara tersebut.
âProbabilitas penurunan Fed Funds Rate juga semakin tinggi. Dan kita akan menunggu keputusan penurunan Fed Funds Rate itu tentu saja pada esok hari,â kata Perry.
Di pasar keuangan global, imbal hasil atau yield US Treasury menurun sejalan dengan ekspektasi penurunan Fed Funds Rate dan mendorong pelemahan indeks mata uang dolar AS atau DXY.
Dengan masih tingginya ketidakpastian, Perry mengatakan bahwa aliran modal global ke komoditas emas semakin meningkat. Sedangkan aliran modal ke emerging market sedikit tertahan.
âKe depan, volatilitas pasar keuangan global masih terus berlanjut, sehingga perlu diantisipasi dengan penguatan berbagai respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi dalam negeri,â kata Perry pula.
- Bank Indonesia (BI)
- gejolak global
- tarif resiprokal
- rdg bi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Kabar Baik! Pemkot Singkawang Tak Putus Kontrak PPPK Paruh Waktu
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Arus mudik sepeda motor di Pantura
-
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.