Disebut Biang Kerusuhan Demo, Dendam Antara Prabowo dengan Riza Chalid Dibongkar Mantan Intelijen Negara!
Senin, 08 Sep 2025, 10:05 WIBJAKARTA - Pernyataan mengejutkan datang dari mantan intelijen negara, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra. Dalam wawancara panas di kanal YouTube Forum Keadilan TV, ia menegaskan kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini bukanlah peristiwa spontan, melainkan hasil skenario besar yang dirancang dengan matang.
Menurut Sri Radjasa, setiap komponen dalam kerusuhan itu sudah diatur: mulai dari pelaku kerusuhan, pendana, hingga aparat pengamanan.Â
âSemua ini paket tiga dalam satu, ada pendana, pelaku, dan pengaman. Energi dan logistik yang dikeluarkan tidak kecil,â ungkapnya, Jumat (5/9/2025).
Lebih jauh, ia menuding ada âsakit hatiâ besar di balik manuver ini. Nama yang mencuat adalah Riza Chalid, bos minyak yang kini masih berstatus buronan kasus korupsi Pertamina.Â
âRiza Chalid punya dendam politik pribadi terhadap Presiden Prabowo. Itu informasi yang sangat bisa dipercaya,â tegas Sri Radjasa.
Padahal, hubungan keduanya tidak asing. Di Pilpres 2014, Riza Chalid sempat masuk dalam lingkaran dukungan Prabowo.Â
Namun, Sri Radjasa mengklaim, Riza sebenarnya tidak pernah menyetor dana ke kubu Prabowo.Â
âItu fakta yang jarang diketahui publik. Dari situ, benih dendam mulai tumbuh,â ujar Sri Radjasa.
Perseteruan makin pelik ketika adik Prabowo, Hasyim, membawa investor minyak asal Rusia, namun langkahnya dijegal oleh Riza.Â
âSejak saat itu, hubungan keduanya retak. Ketika Riza ditetapkan tersangka, dendam lama berubah jadi bara,â jelasnya.
Sri Radjasa bahkan menyebut, dalam kerusuhan kali ini, Riza Chalid berperan sebagai pendana utama. Namun, pengendali lapangan disebut berasal dari kelompok yang ia sebut sebagai âGeng Soloâ. Mereka, katanya, lihai memanfaatkan momentum.
Awalnya, ajakan demo yang tersebar luas mengusung narasi besar, tangkap Jokowi dan makzulkan Gibran lewat mekanisme DPR.
"Karena ini terjadi begal demo. Awalnya ajakan untuk demo memang cukup viral. Cuman narasi yang digunakan adalah satu, tangkap Jokowi, makzulkan Gibran dengan menggunakan mekanisme DPR,â jelasnya.
Namun, di tengah perjalanan, isu itu digeser. Fokus justru diarahkan pada DPR yang dituduh hidup hedon, menerima tunjangan berlebihan, dan dianggap tidak pantas mewakili rakyat.
âIni bukan demo biasa, melainkan begal demo. Isu diubah, narasi digiring, dan kerusuhan pun tercipta,â pungkas Sri Radjasa.
Pernyataan ini tentu saja menyulut tanda tanya besar. Benarkah kerusuhan yang terjadi belakangan ini hanyalah alat balas dendam lama antara Presiden Prabowo dan Riza Chalid?Â
Jika benar, maka bangsa ini sedang jadi arena perang politik tingkat tinggi yang dikhawatirkan merugikan rakyat banyak.
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian
-
Pemkot Jambi Kembangkan Kota Tua sebagai Pusat Ekonomi dan Pariwisata
-
APBD 2026 Tetap Kokoh Meski Dana Bagi Hasil Dipotong
-
Ekskavasi di kawasan cagar budaya Benteng Speelwijk
-
Tim SAR Selamatkan Dua Nelayan Kepri Hanyut ke Perairan Malaysia
-
War Tiket EXO Jakarta Dimulai Hari Ini! Cek Link Resmi dan Trik Rebut Kursi Indonesia Arena
-
Kabar Baik Buat Investor! KKP Jamin Izin Pemanfaatan Laut Lebih Cepat dan Jelas
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.