'Bunga Penutup Abad' Kembali Dipentaskan, Pertunjukan Teater yang Diangkat dari Tetralogi 'Bumi Manusia'
📅 Sabtu, 30 Agu 2025, 15:20 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Antara
JAKARTA - Pementasan teater 'Bunga Penutup Abad' kembali hadir dengan suguhan yang memukau para penikmat seni pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Dengan pendekatan visual yang artistik, teater ini memanjakan mata lewat tata panggung, kostum, dan pencahayaan yang detail dan cita rasa tinggi, yang tergambarkan dalam preview pertunjukan garapan Titimangsa pada Kamis (28/8) malam.
Akting para pemainnya, Happy Salma cs, pun tampil gemilang. Dengan ekspresi yang kuat dan penjiwaan mendalam, yang menghadirkan pengalaman menonton yang nyaris sinematik namun tetap mengakar pada estetika panggung yang khas.
Latar cerita mengambil masa kolonial Belanda, yang membawa penonton masuk ke dalam suasana sejarah yang jarang disorot secara mendalam di panggung teater Indonesia.
Dialog yang disusun dalam bahasa Indonesia baku nan puitis menambah kekuatan naratif yang unik, menjadikan setiap percakapan terdengar seperti alunan sastra lisan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Teksnya atau bahasa yang digunakan baku dan memang memiliki arti yang sangat mendalam," ujar Happy Salma, yang juga merupakan Produser pertunjukan ini.
Tidak hanya menyuguhkan drama, teater ini juga menyelipkan tema dan konflik sosial yang kompleks, yang perlahan-lahan terungkap melalui alur penuh kejutan dan twist yang tidak terduga.
Bunga Penutup Abad bukanlah tontonan ringan, ini adalah sajian yang menuntut konsentrasi dan perenungan. Cocok bagi penikmat yang menyukai karya yang mengajak berpikir dan menggali makna di balik setiap gestur, dialog, dan simbol yang ditampilkan.
Bagi pencinta seni teater, sastra, dan sejarah, produksi ini bukan hanya hiburan, melainkan pengalaman imersif yang kaya rasa dan penuh intensitas emosional.
Sinopsis
Bunga Penutup Abad berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani ke mana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman.
Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan kepada Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh.
Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga. Seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda.
Terpisah jarak dengan Annelies, Minke dan Nyai Ontosoroh menemukan arti dari perlawanan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!