Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemenkes Sebut Anak Indonesia Berhak Merdeka dari Penyakit dengan Vaksin

📅 Senin, 25 Agu 2025, 17:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kemenkes Sebut Anak Indonesia Berhak Merdeka dari Penyakit dengan Vaksin Doc: Antara
Ket. Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes Elvieda Sariwati dalam acara “Dari Tagar Menjadi Sadar: Mengubah Percakapan Menjadi Perlindungan” di Jakarta, Senin (25/8).

Jakarta - Kementerian Kesehatan menyebutkan, masih dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan RI perlu diingat bahwa anak memiliki hak untuk merdeka dari penyakit melalui pemberian vaksin.

"Bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk merdeka dari penyakit, tumbuh sehat dan memiliki kesempatan yang sama. Dalam hal ini salah satunya adalah kesempatan untuk mendapatkan imunisasi dalam mencegah penyakit-penyakit menular yang ada khususnya di Indonesia ini," kata Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes Elvieda Sariwati.

Dia menjelaskan di Jakarta, Senin (25/8), bahwa untuk menjaga kesehatan masyarakat, bukan hanya membutuhkan ketersediaan layanan serta vaksin yang memadai, namun juga perubahan perilaku dan menumbuhkan kesadaran secara kolektif.

"Pandemi COVID-19 memberi kita pelajaran berharga bahwa banyak orang tua menunda imunisasi anak karena takut, ragu atau terpapar hoaks. Akibatnya cakupan imunisasi bisa menjadi turun," dia menyebutkan.

Oleh karena itu, pihaknya bersama berbagai mitra pembangunan dari lintas sektor, seperti Global Health Strategies (GHS). Dia menyebutkan, sejak penandatanganan nota kesepahaman bersama GHS pada tahun lalu, banyak hal dalam komunikasi dan edukasi publik mengenai pentingnya imunisasi yang sudah tercapai.

Dia menyebutkan, kolaborasi juga menjadi penting, seperti ditunjukkan oleh pengalaman menghadapi wabah polio, yang ditanggulangi melalui keterlibatan para tokoh dan organisasi masyarakat serta mitra global untuk menggalakkan edukasi bagi publik.

"Dan pendekatan sosial dan behavior change sangat penting. WHO melalui kerangka behavior and social drivers membantu kita memahami faktor-faktor yang mendorong atau menghambat keputusan imunisasi," katanya.

Menurutnya, media sosial menjadi salah satu peluang untuk mengedukasi, karena cakupannya yang luas.

Sebaiknya Anda baca juga:

"Kita lihat data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) itu bahwa pengguna internet di tahun 2024 itu 221,5 juta jiwa. Dan kemudian dari survei penetrasi internet di Indonesia juga bahwa tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 79,5 persen," katanya.

Namun demikian, perlu ada pengawasan agar hasil edukasi dapat tercapai, mengingat komunikasi melalui media sosial hanya satu arah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Jakarta Terima Hadiah Ultah...

Kerukunan dan Kebebasan Beribadah Patut Disyukuri

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kerukunan dan Kebebasan Ber...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.