Pakistan Anugerahkan Medali Keberanian untuk Pilot yang Menembak Jatuh Jet Tempur Rafale India

Minggu, 17 Agu 2025, 16:01 WIB
ISLAMABAD - Untuk pertama kalinya sejak misi berani mereka dalam konflik bulan Mei dengan India, pilot Angkatan Udara Pakistan atau Pakistan Air Force (PAF) yang menembak jatuh enam jet tempur India,  termasuk jet Rafale dan menghancurkan sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia tampil di hadapan publik pada hari Kamis (14/8)
Dilansi oleh Tribune, kemunculan para pahlawan nasional yang telah lama ditunggu-tunggu ini terjadi saat Presiden Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif menganugerahkan mereka dengan penghargaan keberanian tertinggi selama upacara Hari Kemerdekaan di Aiwan-e-Sadr.
Perdana Menteri Sharif memberikan penghormatan khusus kepada Komandan Sayap Malik Rizwanul Haq, yang dianugerahi Tamgha-e-Basalat karena menghancurkan sistem S-400 selama Operasi Bunyanum Marsoos.
Shehbaz Sharif secara pribadi menganugerahkan medali tersebut, dan mengundang sang pilot untuk berdiri di sampingnya di hadapan hadirin. "Dia menghancurkan sistem S-400," ujar perdana menteri kepada hadirin, yang disambut tepuk tangan meriah dan sorak sorai.
Menurut Hubungan Masyarakat Antar-Layanan (ISPR), Sitara-e-Jurat dianugerahkan kepada Komandan Sayap Bilal Raza, GD(P), Angkatan Udara, Komandan Sayap Hammad Ibne Masood, GD(P), Angkatan Udara, Pemimpin Skuadron M Yousaf Khan, GD(P), Angkatan Udara, Pemimpin Skuadron Muhammad Osama Ishfaq, GD(P), Angkatan Udara, Pemimpin Skuadron Muhammad Hassan Anees, GD(P), Angkatan Udara, Pemimpin Skuadron Talal Hassan, GD(P), Angkatan Udara, Pemimpin Skuadron Fida Muhammad Khan, GD(P), Angkatan Udara.
Konflik Terkini Pakistan-India
Eskalasi terbaru antara Pakistan dan India dimulai pada 22 April, ketika sebuah serangan di  Pahalgam  menewaskan 26 orang. India langsung menyalahkan Pakistan atas insiden tersebut. Namun, Pakistan dengan tegas menolak tuduhan India.
Sebagai tanggapan, India melakukan serangkaian tindakan permusuhan pada hari berikutnya, 23 April, termasuk menangguhkan  Perjanjian Perairan Indus  (IWT) yang telah berusia 65 tahun, membatalkan visa bagi warga negara Pakistan, menutup perlintasan perbatasan Wagah-Attari, memerintahkan penutupan Komisi Tinggi Pakistan di New Delhi, dan mengurangi staf diplomatik di kedutaan masing-masing.
Ketegangan semakin meningkat pada dini hari tanggal 7 Mei, ketika  serangan rudal  menghantam enam kota di Punjab dan Azad Jammu dan Kashmir (AJK), menghancurkan sebuah masjid dan menewaskan puluhan warga sipil, termasuk wanita, anak-anak, dan orang tua.
Dalam respons militer yang cepat, angkatan bersenjata Pakistan menembak jatuh pesawat-pesawat tempur India, termasuk tiga jet Rafale. Konfrontasi kembali memanas pada dini hari tanggal 10 Mei, ketika India menyerang beberapa pangkalan udara Pakistan dengan rudal. Sebagai balasan, Pakistan melancarkan  Operasi Bunyanum Marsoos , yang merusak instalasi militer India, termasuk lokasi penyimpanan rudal, pangkalan udara, dan target strategis lainnya.
Kemudian, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa  gencatan senjata  telah dicapai setelah upaya diplomatik yang intensif semalam. Beberapa menit kemudian, kesepakatan tersebut dikonfirmasi secara terpisah oleh Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Menteri Luar Negeri India.
  • Konflik India-Pakistan

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.