Media Ukraina: J-10CE Pakistan Berburu dan Jatuhkan Rafale India Secara Mandiri, Tanpa Bantuan AWACS

Selasa, 28 Jul 2026, 00:18 WIB

KIEV – Sebuah media pertahanan Ukraina mengungkap temuan baru mengenai pertempuran udara antara Pakistan dan India pada Mei 2025. Dalam laporannya, disebutkan bahwa Angkatan Udara Pakistan (Pakistan Air Force/PAF) mengandalkan radar yang terpasang pada jet tempur J-10CE untuk mendeteksi, melacak, dan menyerang pesawat tempur India, termasuk Rafale buatan Prancis, tanpa bergantung pada pesawat peringatan dini dan kendali udara (Airborne Early Warning and Control System/AEW&C) untuk mengarahkan rudal. 

Temuan tersebut bertolak belakang dengan teori yang selama ini banyak beredar di kalangan pengamat pertahanan. Sebelumnya, banyak analisis menyebut keberhasilan J-10CE sangat bergantung pada dukungan pesawat AWACS yang memberikan panduan sasaran secara terus-menerus kepada rudal jarak jauh PL-15E melalui jaringan data. 

Ket. Foto: Satu tahun setelah pertempuran udara 7 Mei 2025 , narasi dominan mengenai penembakan jatuh pesawat tempur Angkatan Udara India (IAF) oleh Angkatan Udara Pakistan (PAF) telah menetapkan klaim spesifik yaitu, J-10C dengan rudal jarak jauh (BVR) PL-15E terlibat pertempuran pada jarak 160–190 km menggunakan panduan rudal AWACS melalui sistem peringatan dini — Sumber: Istimewa

Menurut laporan Defense Express, media dan lembaga analisis pertahanan yang berbasis di Kyiv, pesawat AEW&C Pakistan hanya berfungsi memberikan informasi awal mengenai arah datangnya target. Setelah itu, radar Active Electronically Scanned Array (AESA) milik J-10CE mengambil alih proses pencarian, penguncian sasaran, hingga peluncuran rudal secara mandiri. Rudal kemudian melanjutkan fase terminal menggunakan radar aktif dan data link internalnya sendiri. 

Apabila klaim tersebut akurat, maka kemampuan radar J-10CE dinilai lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa pesawat tersebut memiliki kemampuan beyond visual range (BVR) yang lebih mandiri dibanding asumsi yang berkembang selama ini. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum mendapat tanggapan resmi dari India maupun produsen Rafale, Dassault Aviation. 

Laporan ini muncul di tengah perdebatan yang masih berlangsung mengenai bagaimana Pakistan berhasil memperoleh keunggulan dalam pertempuran udara terbesar antara India dan Pakistan dalam beberapa dekade terakhir. Investigasi Reuters sebelumnya menyebut keberhasilan Pakistan kemungkinan merupakan hasil kombinasi berbagai faktor, mulai dari kemampuan rudal PL-15, jaringan sensor dan data link, peperangan elektronik, hingga keunggulan kesadaran situasional (situational awareness), bukan semata-mata karena kemampuan satu sistem senjata. 

Sejumlah analis juga mengingatkan bahwa informasi mengenai operasi tempur modern masih sangat terbatas dan sebagian besar berasal dari pernyataan resmi maupun sumber yang memiliki kepentingan masing-masing. Karena itu, rincian teknis mengenai peran radar J-10CE maupun AEW&C dalam pertempuran tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan komunitas pertahanan internasional. 

  • Konflik India-Pakistan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.