Rumah yang Aman Bagi Hewan Endemik
Jumat, 15 Agu 2025, 07:37 WIBSEPERTI taman nasional lain di Kalimantan, Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kalimantan Utara juga dihuni berbagai macam flora dan fauna. Berada letaknya berada yang berada di tengah pulau Borneo berbatasan dengan Malaysia, menjadikannya relatif aman dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Flora taman nasional yang berada di Kabupaten Nunukan, dan Malinau memiliki beragam kekayaan flora endemik. Beberapa dan di antaranya adalah kayu ulin, ramin, rengas dan jelutong. Selain itu, ada juga beberapa jenis anggrek yang tumbuh liar di sini.
Bahkan, terdapat beberapa jenis tumbuhan di TNKM yang belum bisa diidentifikasi karena berbagai keterbatasan yang dimiliki para peneliti. Itu artinya secara keilmuan taman nasional ini masih memiliki potensi yang lebih banyak untuk digali.
Ada berbagai fauna yang hidup di hutan yang masih rapat ini. Ada sekitar 100 lebih spesies mamalia, dengan 15 di antaranya adalah hewan endemik. Hewan-hewan seperti lutung dahi putih, banteng, beruang madu sampai macan dahan bisa dijumpai di sini.
Dulunya, Taman Nasional Kayan Mentarang juga pernah dihuni oleh beberapa jenis fauna, seperti gajah Kalimantan dan badak Sumatera di bagian Utara, serta orangutan di wilayah tengah dan Selatan. Sayangnya, beberapa di antaranya punah akibat perburuan liar.
Kukang (Nycticebus coucang), merupakan salah salah satu primata TNKM. Hewan dalam kategori dilindungi ini hidup dengan memakan getah pohon dan nektar dari lebah. Habitatnya berada di hutan primer, sekunder, serta wilayah perkebunan.
Wilayah TNKM yang cukup terisolasi dari keramaianan menjadi habitat yang aman dengan ketersediaan pangan yang cukup bagi hewan ini. tempat ini juga sering menjadi lokasi pelepasliaran kukang yang didapat dari masyarakat.
Fauna lain penghuni TNKM adalah lutung bangat. Primata penghuni hutan belantara bahkan dijadikan ikon bagi taman nasional ini, karena menjadi salah satu habitatnya aslinya, di samping hutan-hutan lain di Kalimantan.
Hasil survei yang dilakukan pada tahun 2018, primata ini rentan punah ini bisa ditemukan di kawasan Long Aad juga di SPTN wilayah II Long Alango dan SPTN III Long Ampung. Mereka diketahui kerap datang ke sumber air asin untuk mendapatkan mineral penting seperti kalsium, magnesium, sodium atau seng.
Data Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, populasi lutung banggat terus mengalami penurunan. Pada tahun 2000-an, jumlah hewan bernama latin Presbytis hosei ini menurun sekitar 50--80 persen akibat perburuan.
Hewan endemik lainnya adalah trenggiling. Di TNKM hewan ini termasuk satwa yang paling diincar oleh jaringan perdagangan satwa ilegal itu. Dengan nama latin Manis javanica, mamalia bersisik dalam famili Pholidota ini banyak diburu untuk diambil sisiknya. hay
- Rimba Tropis
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.