Potensi Filantropi Rp600 T: Kekayaan Sosial yang Belum Tergarap!
Senin, 04 Agu 2025, 15:32 WIBJAKARTA - Potensi filantropi nasional diperkirakan melampaui Rp600 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya ruang kontribusi sektor non-pemerintah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.Â
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menyatakan optimalisasi potensi filantropi tidak hanya menjadi sumber pendanaan alternatif, tetapi juga dapat memperkuat kemitraan antara negara, sektor swasta, dan masyarakat sipil.Â
Dalam konteks agenda pembangunan nasional, sinergi ini penting untuk mempercepat pencapaian target-target pembangunan, terutama pada bidang-bidang strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan perhitungan dari Bappenas, sumber filantropis berbasis keagamaan seperti dari zakat, wakaf, para donatur dari agama selain Islam hingga perusahaan-perusahaan yang menghimpun dana filantropi, yang diperkirakan potensi filantropi di Indonesia lebih dari Rp600 triliun.
"Kalau ini bisa dimulai dan dilanjutkan oleh para filantropis yang berkumpul di sini, maka ini akan menjadi ladang amal kita ke depan," katanya dalam Pembukaan Filantropi Festival 2025: Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik di Jakarta, Senin (4/8).
Selama ini, para filantropis di Indonesia maupun global disebut telah berkontribusi dalam pembangunan dengan cara mereka sendiri.
Dia menceritakan filantropis perempuan yang bernama Fatima al Fihri, membangun universitas pertama di Afrika Utara, tepatnya di negara Maroko. Hal tersebut menjadi pedoman bagi tumbuh kembang perguruan tinggi di daratan Eropa maupun Amerika yang juga berkat dukungan para filantropis.
Rachmat juga menerangkan bahwa dirinya berkembang karena filantropis saat dulu menempuh pendidikan di Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) yang dimiliki oleh filantropis.
Sekolah lainnya seperti Al-Izhar hingga perguruan tinggi Prasetiya Mulya turut didirikan oleh para filantropis.
âSebenarnya filantropis Indonesia juga sudah membangun dirinya dan membangun untuk Indonesia..Kalau para filantropis bisa membangun negerinya, maka ini adalah langkah awal kita untuk membangun Indonesia yang lebih berkelanjutan,â ungkap Kepala Bappenas.
Konsolidasi para filantropis yang membangun kesadaran dan kekuatan dengan semangat keswadayaan untuk memberikan dampak positif lebih luas dianggap menjadi awal dari pembangunan nasional.
âJadi filantropis adalah bagaimana manusia mencintai sesamanya. Kalau manusia mencintai sesamanya berhimpun untuk mencintai sesamanya, maka ini adalah langkah awal yang baik untuk membangun sebuah kemanusiaan, membangun kemasyarakatan, dan juga membangun bangsa dan negara kita Indonesia,â kata Rachmat Pambudy.
âBenar pemerintah itu bisa memberikan arah, bisa membuat regulasi, bisa membuat peraturan dan undang-undang, tetapi ini harus ada kesadaran dari para masyarakatnya sendiri. Masyarakat sendiri harus menyadari bahwa pembangunan itu adalah untuk kita semua, untuk mencintai sesama (filantropis), baru ada kesadaran,â ungkap Kepala Bappenas.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sengketa Hak Suara AI: Google Diseret ke Pengadilan California
-
Menlu Sugiono: Indonesia Kirim 8.000 Pasukan, Bukan Bayar 1 miliar Dollar AS
-
Capaian SEA Games 2025: Angin Laut Gak Dukung Tim Layar Indonesia
-
LPS dan CIMB Niaga Finance Perkuat Literasi Keuangan dan Pendidikan di Pelosok Nagekeo NTT
-
Belitung Terapkan Jam Malam untuk Pelajar, Nongkrong di Atas Jam 10 Malam Dilarang!
-
UEFA: Italia Terancam Gagal Jadi Tuan Rumah Piala Eropa 2032 Jika Stadion Tak Dibenahi
-
Pemkot Jayapura Bayarkan TPP ASN 100 Persen Jelang Natal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.