Indonesia-Prancis Perkuat Kolaborasi Fesyen dan Kriya ke Kancah Global
📅 Rabu, 30 Jul 2025, 20:54 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Kementerian Ekonomi Kreatif
JAKARTA - Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat kolaborasi fesyen dan kriya dengan Prancis melalui program residensi bersama yang akan melibatkan desainer kedua negara untuk memperkuat daya saing talenta ekraf Indonesia di kancah global.
“Pertukaran talenta, lokakarya kolaboratif, dan co-creation produk menjadi elemen kunci dalam mendorong subsektor fesyen dan kriya sebagai the new engine of growth sekaligus mendukung peningkatan daya saing ekraf secara global," kata Wakil Menteri Ekraf Irene Umar dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (30/7).
Wamen Ekraf menekankan bahwa kerja sama internasional perlu menghasilkan dampak nyata bagi para pelaku industri dengan adanya alih ilmu, peluang bisnis, dan penguatan ekosistem yang dirasakan langsung oleh para pelaku industri kreatif.
Wamen Ekraf menggarisbawahi pentingnya pendekatan kolaboratif berbasis hexahelix, dalam hal ini melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media, untuk memperluas manfaat program lintas negara.
Sejak akhir Mei 2025, hubungan strategis Indonesia–Prancis di sektor kreatif mendapat momentum baru melalui kunjungan kenegaraan Presiden Emmanuel Macron ke Jakarta dan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup subsektor fesyen, kriya, desain, film, hingga gim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kolaborasi tersebut menjadi pijakan untuk membangun ekosistem lintas negara yang berpijak pada inovasi dan nilai budaya.
Salah satu implementasi konkretnya adalah penguatan platform inkubasi PINTU, yang tahun ini menyelenggarakan Residency Program dan Focus Week di Jakarta dan Yogyakarta, mempertemukan talenta kreatif dari kedua negara dalam ruang kerja bersama.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, H.E. Fabien Penone, menilai sektor kreatif sebagai sarana diplomasi yang efektif dalam membangun kedekatan antarbangsa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, kolaborasi budaya bukan hanya tentang ekspresi artistik, tetapi juga strategi masa depan untuk menciptakan dunia yang lebih terbuka, inklusif, dan lestari.
“Kami percaya bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan yang mampu menyatukan bangsa-bangsa dan membuka peluang baru dalam kerja sama global,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Jakarta Fashion & Food Festival (JF3), Soegianto Nagaria, menyoroti peran program PINTU sebagai ruang tumbuh bagi desainer dan perajin dari Indonesia dan Prancis.
Menurutnya, keterlibatan langsung dalam proses kreatif bersama memberikan pengalaman mendalam yang melampaui sekadar pameran atau promosi karya.
“Melalui PINTU, kami melihat bagaimana kerja sama bisa menciptakan dampak konkret. Desainer dan perajin tidak hanya memamerkan karya, tapi juga membangun jejaring, menciptakan produk bersama, dan berbagi nilai budaya,” ungkapnya.
Seminar ini sekaligus mempertegas peran subsektor fesyen dan kriya dalam mendukung visi ekonomi kreatif Indonesia sebagai pilar diplomasi budaya dan motor baru pertumbuhan ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!