Rupiah Loyo Sepekan Ini, Sinyal Ekonomi AS yang Masih 'Ngebul' Tekan Pasar Emerging Market

Jumat, 25 Jul 2025, 17:55 WIB

JAKARTA - Rupiah cenderung melemah sepekan ini karena dipengaruhi sentimen kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan spekulasi kebijakan Federal Reserve (The Fed). 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 23 poin atau 0,14 persen sepanjang 21-25 Juli 2025. 

Ket. Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (15/5/2025). — Sumber: ANTARA/ Muhammad Adimaja.

Dalam kondisi ini, pelaku usaha dan pemerintah perlu tetap waspada. Fluktuasi nilai tukar bisa berdampak pada beban impor, inflasi barang konsumsi, dan daya beli masyarakat. Strategi lindung nilai (hedging), diversifikasi ekspor, serta penguatan ekonomi domestik menjadi langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan jangka menengah.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (25/7), di Jakarta melemah sebesar 25 poin atau 0,15 persen dari sehari seblumnya menjadi Rp16.320 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.325 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.283 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa Amerika Serikat (AS) tetap solid.

“Rupiah kembali mengalami pelemahan. Hal ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang cenderung tertahan setelah rilis data ekonomi AS yang beragam, PMI manufaktur melemah namun sektor jasa tetap solid,” katanya di Jakarta.

Berdasarkan S&P Global US Flash PMI, indeks output Komposit PMI AS naik dari 52,9 pada Juni menjadi 54,6 pada bulan ini yang didorong sektor jasa, dimana aktivitas bisnis meningkat yang belum pernah terjadi sejak Desember 2024. Indeks Aktivitas Bisnis PMI Sektor Jasa meningkat jadi 55,2 dari 52,9.

Meskipun output manufaktur juga naik, tetapi laju pertumbuhan produksi melambat yang menandakan ekspansi moderat. Indeks Output Manufaktur AS melemah 51,2 dari 52,1, sama halnya PMI Manufaktur AS yang turun dari 52,9 menjadi 49,5.

“(Data-data ekonomi AS tersebut) memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang, membuka ruang bagi mata uang emerging markets seperti rupiah untuk stabil. Pasar juga menanti rilis data Durable Goods Orders AS yang bisa mempengaruhi arah dolar dalam jangka pendek,” ungkap Taufan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.