Dibayangi Eskalasi Geopolitik, 10 Agustus 2026

Senin, 10 Agu 2026, 08:30 WIB

JAKARTA – Pergerakan rupiah pada awal pekan diper­kirakan masih volatil seiring sikap investor mencermati per­kembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Ketidakpastian tersebut dapat men­dorong pergeseran dana ke aset safe haven dan menekan rupiah, sementara ekspektasi terhadap kebijakan bank sen­tral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan menjadi penen­tu utama sentimen pasar.

Pengamat mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed menjadi per­hatian investor. Karenanya, dia memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Senin (10/8), bergerak fluktuatif dengan keecenderun­gan melemah di kisaran 17.780-18.020 rupiah per dollar AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Jumat (7/8), bergerak menguat 26 poin atau 0,15 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.897 rupiah per dollar AS. “Penguatan rupiah dipengaruhi rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia di bulan Juli 2026, yang cenderung stabil dibandingkan dengan bulan sebelum­nya,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede.

Dia menambahkan rupiah dibuka melemah, sejalan de­ngan data ketenagakerjaan AS yang masih memperlihat­kan resiliensi pada malam sebelumnya. Rupiah kemudian berbalik arah setelah rilis data cadangan devisa Indonesia di bulan Juli 2026, yang cenderung stabil dibandingkan de­ngan bulan sebelumnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.