Dorong Pertumbuhan dan Tekan Inflasi, Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Jadi 5,25 Persen

Kamis, 17 Jul 2025, 10:48 WIB

Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali melakukan langkah strategis dengan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin, dari 5,50?% menjadi 5,25?%, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 15–16 Juli 2025. Keputusan ini sekaligus menurunkan suku bunga deposit facility menjadi 4,50?% dan lending facility ke 6,00?%, disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual pada 16 Juli lalu.

Menurut Perry, penurunan ini sangat rasional mengingat proyeksi inflasi 2025 dan 2026 kini semakin rendah, tetap berada dalam target 2,5?% ±?1?%. Selain itu, kondisi rupiah yang stabil juga mempermudah BI melakukan kebijakan longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestic.

Saat nilai tukar rupiah terus terjaga menyusul kesepakatan tarif ekspor impor dengan AS-BI merasa memiliki ruang optimal untuk menurunkan suku bunga guna mengakselerasi konsumsi dan investasi. “BI sudah all out dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, termasuk mendorong pertumbuhan kredit,” tegas Perry. Ia juga menyatakan bahwa BI akan terus mengamati kemungkinan penurunan lanjutan, dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi sesuai dinamika global dan domestic.

Pemangkasan kali ini merupakan kelanjutan dari rangkaian easing yang dimulai sejak Januari dan Mei 2025, menandai empat kali penurunan sejak September 2024. Data terbaru mencatat inflasi pada Juni 2025 hanya 1,87?%—cukup jauh di bawah ambang batas atas target BI—dan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama berada di kisaran 4,6–5,4?%. Meski konsumsi rumah tangga masih lesu, ekspor justru menunjukkan perbaikan, seiring pelemahan tarif impor AS dari 32?% menjadi 19?%, yang bakal mengembalikan daya saing produk Indonesia.

Para ekonom pun menyambut hangat keputusan ini. Sebagian besar dari mereka memprediksi BI bakal menurunkan suku bunga ke 5,00?% sebelum akhir tahun, sejalan dengan ekspektasi perlambatan global dan inflasi yang terkendali. Beberapa bahkan sudah menyorot bahwa BI memungkinkan melanjutkan easing hingga kuartal I 2026.

Bagi masyarakat umum, penurunan ini bisa diartikan sebagai bentuk stimulasi ekonomi yang lebih ringan. Kredit perbankan jadi lebih murah, pinjaman untuk konsumsi maupun investasi UMKM pun diharapkan mengalami dampak positif. Sementara itu, pelaku usaha dan investor bisa menikmatinya lewat suku bunga deposito yang menurun, namun tetap layak.

Gambaran gaya hidup pasca-pemangkasan BI Rate:
• Konsumsi meningkat: Dengan bunga kredit rumah, mobil, atau modal kerja turun, masyarakat lebih terdorong untuk belanja atau memulai usaha.
• Investasi UMKM terdorong: Pembiayaan yang lebih murah mendorong pelaku usaha mikro dan kecil untuk berkembang.
• Pasar saham & pasar modal: Likuiditas melimpah dapat meningkatkan aliran dana ke saham dan obligasi, berdampak positif pada indeks bursa.
• Rupiah tetap stabil: Dukungan BI lewat intervensi valuta asing tetap menjaga rupiah agar tidak tertekan.

Saat bunga bank rendah, masyarakat cenderung lebih percaya diri mengajukan KPR, membeli kendaraan, atau mengembangkan bisnis rumahan. BI melihat ini sebagai momentum memperkuat pertumbuhan domestik yang bisa menyentuh angka 4,6–5,4?%.

Secara keseluruhan, keputusan BI menurunkan bunga menjadi 5,25?% bukan semata respons teknis. Ini juga bentuk kebijakan gaya hidup nasional yang mendorong jumlah transaksi, aktivitas berusaha, dan kesejahteraan masyarakat. BI menegaskan sikapnya: membuka jalan lebar untuk pertumbuhan, namun tetap waspada terhadap potensi risiko eksternal atau geopolitik ekonomi global.

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.