Kekejaman dan Kebijaksanaan, Dua Wajah Kontras Bangsa Asyur
📅 Rabu, 16 Jul 2025, 07:35 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Foto: British Museum, London, Inggris
BANGSA Asyur kuno dianggap sering secara tidak adil sebagai bangsa brutal yang hanya berhasrat menaklukkan tetangga mereka. Stigma ini mengabaikan peran penting bangsa Asyur dalam berkontribusi terhadap peradaban di Timur Dekat.
Raja-raja Asyur terbukti sama terampilnya dalam seni diplomasi dan perang, dan mereka juga menunjukkan bakat yang tajam dalam berbisnis. Bangsa ini menggunakan kekayaan mereka untuk membangun beberapa perpustakaan pertama di dunia.
Perpustakaan tersebut diisi dengan tulisan-tulisan keagamaan, catatan pemerintah, dan beberapa teks historiografi paling mengesankan di dunia kuno. Selain itu, istana-istana rajanya dihiasi dengan beberapa karya seni paling inspiratif dan indah di dunia kuno.
Kisah Asyur kuno dimulai dengan apa yang oleh para ahli Asyur dianggap sebagai periode Asyur Kuno, sekitar 2000-1800 SM. Pada masa inilah bangsa inimembangun banyak ciri khas budaya mereka, membangun ibu kota, di tepi barat Sungai Tigris.
Jared Krebsbach doktor sejarah kuno dari Universitas Memphis, di laman The Collector menulis, selama era tersebut, bangsa Asyur mulai menggunakan keahlian mereka dalam perdagangan untuk membangun pengaruh. Para pedagang Asyur membangun jaringan perdagangan di seluruh Timur Dekat dan meninggalkan setumpuk dokumen tertulis di kota Kanesh di Anatolia tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dokumen-dokumen Kanesh menceritakan bahwa perdagangan Asyur cukup terorganisir, yang meletakkan fondasi bagi jaringan perdagangan rumit yang berkembang pada Zaman Perunggu Akhir. Seiring kemajuan bangsa Asyur melalui Zaman Perunggu, mereka menggunakan jaringan perdagangan untuk mendanai Kekaisaran Asyur Pertengahan (sekitar 1400-1050 SM).
Ini adalah era ketika Asyur bergabung dengan “klub Kekuatan Besar” di Timur Dekat bersama Mesir, Babilonia, Mitanni, Alashiya, dan Hatti. Raja Asyur Ashur-uballit I (memerintah sekitar 1365-1330 SM) memimpin rakyatnya ke dalam klub.
Raja Asyur tersebut menulis surat berhuruf paku berbahasa Akkadia kepada raja Mesir yang menyatakan sebagai berikut: “Aku mengutus utusanku kepadamu untuk mengunjungimu dan mengunjungi negerimu. Hingga kini, para pendahuluku belum menulis surat; hari ini aku menulis surat kepadamu. Aku mengirimkan kepadamu sebuah kereta perang yang indah, 2 kuda, dan 1 batu kurma lapis lazuli asli, sebagai hadiah ucapan selamat datangmu.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengaruh geopolitik Asyur tumbuh di Timur Dekat, bersamaan dengan kekuatan militer Asyur. Di bawah pemerintahan Raja Asyur Tutkulti-Ninurta I (memerintah sekitar 1243-1207), bangsa Asyur telah menguasai Kerajaan Mittanni di sebelah timur Sungai Efrat.
Namun, kemajuan Asyur untuk sementara terhenti oleh kekuatan luar. Sekitar tahun 1200 SM, Timur Dekat dilanda serangkaian migrasi yang dipimpin oleh Bangsa Laut yang misterius. Ketika situasi akhirnya mereda, bangsa Asyur dan Mesir adalah satu-satunya bangsa yang kerajaannya akan berlanjut hingga Zaman Besi.
Kekaisaran Neo-Asyur
Bangsa Asyur memanfaatkan kehebatan militer mereka untuk membangun apa yang disebut oleh para ahli Asyur sebagai Kekaisaran Neo-Asyur (934-610 SM). Kekaisaran Neo-Asyur meneruskan tradisi agama dan budaya Kekaisaran Asyur Pertengahan, tetapi terbukti jauh lebih maju di bidang militer.
Bangsa Neo-Asyur menggunakan taktik lama namun brutal yang mencakup serangan gelombang, intimidasi, penghinaan terhadap bangsa yang kalah, dan migrasi paksa, serta beberapa teknologi baru. Bangsa Asyur termasuk di antara bangsa pertama di dunia kuno yang menggunakan kavaleri, yang merupakan peningkatan besar dibandingkan kereta perang yang mahal dan seringkali sulit dikendalikan.
Namun, mungkin inovasi militer terbesar bangsa Asyur adalah senjata pengepungan mereka yang canggih. Relief bergambar dari istana-istana Asyur menggambarkan menara pengepungan dan pendobrak beroda berpelindung, sebuah peningkatan besar dibandingkan tangga sederhana.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!