Goa Loyang Koro yang Sarat Peninggalan Sejarah
📅 Jumat, 11 Jul 2025, 07:37 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ANTARA/Nurul Hasanah
SEJAUH 5 kilometer ke arah timur dari kota Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah terdapat salah satu destinasi unggulan di dataran tinggi Gayo yaitu Goa Loyang Koro. Selain menawarkan keindahan alam goa ini menyimpan peninggalan sejarah manusia purba.
Goa Loyang Koro merupakan goa yang terbentuk di pegunungan kapur. Tidak heran saat memasuki goa ini, pengunjung akan disambut dengan stalaktit dan stalagmit yang menjuntai dan mengerucut. Fenomenal ini terbentuk oleh tetesan air yang membawa senyawa kalsium karbonat yang terbentuk selama ribuan tahun.
Kata Loyang Koro yang dalam bahasa Gayo berarti Goa Kerbau menyimpan banyak cerita sejarah. Berdasarkan cerita yang berkembang secara lisa, kerbau dari Goa Loyang Koro dan kambing dari Goa Loyang Kaming Isaq saling berpapasan di jalur goa yang sempit. Keduanya tidak ada yang mau mengalah sehingga kemudian kedua hewan ternak tersebut menjadi batu sebagai hukuman.
Konon katanya pada abad ke-18, goa ini menembus pegunungan Brahpan ke Desa Isaq yang jauhnya kira-kira 35 kilometer. Oleh masyarakat dulu, goa ini digunakan sebagai jalan penghubung antara Goa Loyang Koro di Desa Toweren Uken dan Goa Loyang Kaming di Desa Isaq.
Kedalaman Goa Loyang Koro mulanya mencapai 15 km. Namun kini kedalamannya sudah berkurang atau hanya berkisar sekitar 100 meter. Selain itu, gua ini juga sudah tidak bisa digunakan lagi sebagai jalan penghubung menuju Desa Isaq.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sensasi wisata sejarah Goa Loyang Koro ini dapat dinikmati pengunjung hanya dengan mengeluarkan 10 ribu rupiah. Bagi yang ingin mendapatkan cerita lebih jauh bisa membayar jasa pemandu wisata dan perawatan alat penerangan di dalam goa.
Dalamnya menawarkan suasana yang tenang dan sejuk memberi pengalaman yang menenangkan. Selain keindahan alamnya, goa ini diyakini pernah menjadi tempat perlindungan dan hunian bagi manusia purba, yang dibuktikan dengan temuan artefak dan jejak-jejaknya lukisan pada dindingnya yang memberi gambaran tentang kehidupan masa lalu. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!