Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diplomasi Ekonomi Indonesia Kehilangan Kredibilitas

📅 Jumat, 11 Jul 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Diplomasi Ekonomi Indonesia Kehilangan Kredibilitas Doc: istimewa
Ket. Hubungan Dagang - AS dan RI Sepakat Lanjutkan Perundingan Tarif Selama Tiga Pekan

JAKARTA - Jawaban resmi dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tidak mengubah pengenaan tarif ke barang Indonesia membuktikan bahwa Indonesia belum memiliki pengaruh diplomatik yang kuat dalam percaturan global. 

Pakar Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan posisi RI yang lemah dalam percaturan global itu, terutama karena tidak memiliki daya tawar yang kuat dan berbagai kelemahan lain seperti kurang tegas dalam keberpihakan dan masalah kredibilitas diplomat yang ada.

“Asumsi yang selama ini diklaim oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terbantahkan oleh kenyataan lemahnya posisi tawar Indonesia dalam negosiasi tarif dengan AS. Indonesia belum memiliki daya tawar geopolitik maupun kekuatan ekonomi yang cukup untuk bernegosiasi dalam posisi yang setara dengan AS,” kata Adhi.

Hal itu diperparah oleh ambiguitas politik luar negeri Indonesia yang pragmatis dan tidak konsisten. Keputusan untuk mendekat ke BRICS, misalnya, telah menimbulkan keraguan di mata AS terhadap komitmen Indonesia dalam kerja sama perdagangan jangka panjang.

Kelemahan itu jelasnya, bukan tanpa sebab. Pertama, Menteri Luar Negeri Indonesia tidak memiliki latar belakang yang kuat dalam ekonomi dan politik global. Akibatnya, diplomasi ekonomi Indonesia kehilangan kredibilitas dan tidak mampu menjalin komunikasi yang setara dengan pejabat senior AS.

Kedua, doktrin politik luar negeri “bebas aktif” yang selama ini dibanggakan justru menjadi penghambat. Doktrin tersebut sering kali membuat Indonesia enggan mengambil sikap tegas, dan malah terjebak dalam pendekatan pragmatis yang tidak memiliki arah strategis.

Ketiga, Indonesia tidak berani menentukan kedekatan antara Tiongkok dan AS. Di tengah perang dagang kedua negara, Indonesia memilih netral dan menjaga hubungan baik dengan keduanya. Sikap itu justru menurunkan tingkat kepercayaan dari kedua belah pihak.

Surat dari Presiden Trump yang menyebutkan angka 32 persen sebagai bagian dari kebijakan tarif terhadap Indonesia, serta ancaman penambahan tarif jika Indonesia menaikkan bea masuknya, menunjukkan bahwa AS tidak melihat Indonesia sebagai mitra strategis yang setara.

Meskipun Indonesia telah melakukan berbagai pendekatan, termasuk penandatanganan MoU di sektor pertanian dan energi, serta menawarkan kerja sama di bidang mineral kritis seperti nikel dan kobalt, posisi tawar Indonesia tetap lemah.

Negosiasi yang berlangsung hingga batas akhir 8 Juli 2025 menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam posisi menunggu keputusan sepihak dari AS. Ini bukan bentuk kemitraan strategis, melainkan relasi yang timpang. Jika Indonesia ingin memperkuat posisinya di panggung global, maka reformasi diplomasi ekonomi harus dimulai dari dalam.

“Kementerian Luar Negeri harus dipimpin oleh figur yang memahami ekonomi global, dan politik luar negeri harus diarahkan pada strategi yang jelas dan konsisten. Tanpa itu, Indonesia akan terus menjadi penonton dalam permainan besar geopolitik dan perdagangan dunia,” tuturnya.

Arah Kebijakan Ekonomi

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (10/7) mengatakan AS dan Indonesia sepakat melanjutkan perundingan tarif dalam tiga minggu ke depan guna memastikan hasil yang terbaik bagi kedua belah pihak.

“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progres perundingan. Ke depan, kita akan terus berupaya menuntaskan negosiasi ini dengan prinsip saling menguntungkan,” kata Airlangga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.