Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Transaksi PBK Ngebut di Awal 2025, Angkanya Nyaris Tembus Rp19.000 T

📅 Kamis, 10 Jul 2025, 18:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Transaksi PBK Ngebut di Awal 2025, Angkanya Nyaris Tembus Rp19.000 T Doc: ANTARA/HO-ICDX
Ket. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri memberikan sambutan dalam agenda peluncuran Bursa Renewable Energy Certificate (REC) di Jakarta, Rabu (9/7/2025).

JAKARTA - Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) menyediakan mekanisme lindung nilai (hedging) bagi produsen dan konsumen untuk mengurangi risiko fluktuasi harga komoditas. 

PBK membantu pembentukan harga yang transparan dan efisien, yang mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya. 

PBK juga berfungsi sebagai alternatif investasi yang menarik, meskipun memiliki risiko tinggi. 

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyebutkan adanya capaian positif nilai transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK), yang berdasarkan notional value periode Januari-Mei 2025 mencapai Rp18.969,3 triliun.

"(Angka ini) meningkat 50,1 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024," katanya dalam agenda peluncuran Renewable Energy Certificate (REC), sebagaimana dikutip dari keterangan resminya di Jakarta, Kamis (10/7).

Melihat dari sisi volume, transaksi PBK pada periode Januari-Mei 2025 tercatat sebesar 5.956.457,1 lot atau meningkat 3,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Roro Esti mengapresiasi kontribusi PT Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan PT Indonesia Clearing House (ICH) dalam membangun dan memperkuat ekosistem PBK selama 16 tahun terakhir, termasuk pembentukan Bursa REC.

Menurut dia, ICDX telah mengambil peran penting dalam mendukung program pemerintah. Adanya perdagangan REC menjadi langkah strategis dan inovatif dalam memajukan perdagangan komoditas di Indonesia.

"Kehadiran REC di ICDX akan memperkaya produk yang diperdagangkan, menarik investor baru, dan pada akhirnya, memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekonomi hijau global," ujar Wamendag.

REC merupakan instrumen atau sertifikat yang menggambarkan seberapa besar listrik berasal dari pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sesuai standar yang diakui secara nasional maupun internasional.

Melalui REC, pelaku usaha disebut dapat membuktikan bahwa energi yang digunakan berasal dari sumber terbarukan seperti matahari, air, angin, dan biomassa.

"Peluncuran Bursa REC menjadi hal yang sangat strategis dalam mendorong pemanfaatan energi bersih dan mendukung agenda pemerintah dalam transisi menuju ekonomi hijau," ungkap Roro Esti.

Wamendag juga menegaskan urgensi pengembangan kontrak berjangka untuk komoditas strategis Indonesia.

Dia menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi penerima harga, tetapi harus mampu menjadi penentu harga di pasar global melalui bursa yang kredibel dan diakui secara global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Megapolitan
IQAir: Kualitas Udara Jakar...

Rupiah Rawan Tertekan - 29 September 2026

59 menit yang lalu | Oka Wahyu

Ekonomi
Rupiah Rawan Tertekan - 29 ...
Olahraga
Tim Eropa Kembali Juara Lav...
Olahraga
Indonesia Berpotensi Tambah...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.