Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Negara Segitiga Terumbu Karang Bahas Strategi Atasi Polusi Plastik Laut

📅 Rabu, 09 Jul 2025, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Negara Segitiga Terumbu Karang Bahas Strategi Atasi Polusi Plastik Laut Doc: Coral Triangle Center & CTI-CFF
Ket. Kegiatan Waste Management Kick-Off Meeting yang diselenggarakan pada 7–8 Juli 2025 di Coral Triangle Center (CTC), Bali. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari enam negara anggota Coral Triangle Initiative (CT6), yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina,

Pemerintah, LSM, dan pakar teknis dari seluruh wilayah Segitiga Terumbu Karang berkumpul minggu ini dalam pertemuan untuk merumuskan strategi regional komprehensif dalam menangani masalah pengelolaan sampah di ekosistem laut yang paling beranekaragam di dunia. Pertemuan ini menandai momen penting dalam kerja sama regional, di mana para pemangku kepentingan berkomitmen untuk mengambil tindakan sistematis terhadap krisis limbah plastik yang semakin mengancam terumbu karang, perikanan, dan komunitas pesisir di enam negara.


Pertemuan ini merupakan bagian dari Rencana Aksi Regional (RPOA) 2.0 dari Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF), Target A2: Spesies Terancam; Aktivitas Regional A2.1, dan diselenggarakan bersama WWF. Diskusi berfokus pada krisis limbah plastik yang semakin memburuk—saat ini sekitar 13 juta ton plastik masuk ke laut setiap tahun, dan angka ini diperkirakan hampir dua kali lipat pada tahun 2040 jika tidak ada tindakan. Wilayah Segitiga Terumbu Karang mencakup Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, yang merupakan rumah bagi 76% spesies terumbu karang dunia, namun juga termasuk di antara penyumbang terbesar polusi plastik laut secara global.


Mengatasi Akar Masalah Polusi Plasti Laut
Pertemuan ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama polusi plastik laut dan mengeksplorasi jalur kerja sama regional. Penelitian oleh WWF dan CTI-CFF menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang buruk, infrastruktur yang tidak memadai, kerangka kebijakan yang lemah, dan model produksi yang tidak berkelanjutan merupakan kontributor utama krisis ini, dengan pulau-pulau kecil dan komunitas pesisir menghadapi tantangan khusus.


Pertemuan ini adalah langkah awal dari upaya berkelanjutan di seluruh wilayah untuk mengatasi polusi plastik,” kata Dr. Frank Keith Griffin, Direktur Eksekutif CTI-CFF. “The Coral Triangle Initiative adalah platform yang kuat untuk menyatukan berbagai rencana aksi regional dan mendorong kolaborasi, berbagi strategi yang telah terbukti efektif di kawasan ASEAN dan Pasifik.”


Diskusi menekankan pergeseran dari pengelolaan limbah hilir ke pencegahan hulu, dengan kebutuhan akan perubahan sistemik. Penelitian menunjukkan bahwa transisi dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular dapat mencegah antara 2,2 hingga 5,9 juta ton plastik masuk ke laut setiap tahun hanya dari negara-negara Segitiga Terumbu Karang.

Mengembangkan Pendekatan Regional Kolaboratif

Strategi regional ini masih dalam tahap perumusan, dengan diskusi yang berfokus pada area intervensi utama yang disusun ke dalam empat tema sentral:

·Penguatan Tata Kelola dan kebijakan

·Peningkatan Kapasitas dan Alih Teknologi

·Pendanaan dan Akses Pasar

·Kolaborasi Lintas Sektor

Topik utama yang dibahas meliputi reformasi kebijakan untuk menghapus secara bertahap plastik sekali pakai yang berbahaya, penerapan tanggung jawab produsen yang diperluas, penguatan infrastruktur pengelolaan sampah, serta pembentukan platform berbagi pengetahuan bagi komunitas lokal.

“Tantangan yang beranekaragam di kawasan ini menuntut solusi yang disesuaikan secara lokal dan didorong oleh keterlibatan komunitas,” ujar Klaas Jan Teule, WWF Coral Triangle Programme Leader. “Pertemuan ini merupakan langkah penting dalam membangun kemitraan multi-pemangku kepentingan yang memungkinkan kita untuk berbagi pengetahuan dan memperluas model-model keberhasilan.”

Solusi Lokal dan Studi Kasus Keberhasilan
Diskusi awal juga menekankan pentingnya solusi yang dipimpin oleh komunitas, dengan studi kasus dari kawasan yang menunjukkan bagaimana inisiatif lokal dapat mendorong perubahan yang berarti. Beberapa di antaranya meliputi:

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Posko Siaga PLN Istana Waki...
Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.