Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Soundscape Meratus: Ketika Alam Bicara, Kita Mendengar

📅 Selasa, 08 Jul 2025, 18:32 WIB | Oleh:
Soundscape Meratus: Ketika Alam Bicara, Kita Mendengar Doc: ANTARA/Tumpal Aritonang Andani
Ket. Perahu mesin (kelotok) sandar di dekat Situs ke-31 Geopark Meratus Gunung Api Purba Bawah Laut di kawasan Waduk Riam Kanan, Desa Tiwingan Lama, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

JAKARTA - Ada satu praktik sederhana yang kerap terabaikan dalam relasi kita dengan bumi: mendengarkan.

Sejatinya, setiap detak kehidupan di alam ini menghasilkan suara. Kicau burung, gemericik air sungai, desau angin, gemerisik daun, hingga nyanyian serangga, semuanya membentuk soundscape, lanskap akustik yang menjadi cermin dari kesehatan ekosistem.

Suara alam adalah bentuk komunikasi yang paling jujur dan tidak dibungkus kepentingan. Melalui suara-suara tersebut, alam ingin memberitahu manusia, khalifah di muka bumi ini, apakah ia baik-baik saja atau tengah terluka.

Hutan yang sehat misalnya, tidak pernah sepi dengan suara burung, serangga, ataupun binatang lain, dan bahkan keheningan yang ritmis. Namun saat ekosistem terganggu, suara-suara ini berubah atau bahkan menghilang. Inilah yang kemudian dikenal dengan fenomena silent forest syndrome.

R. Murray Schafer, seorang komposer, penulis, dan pendidik asal Kanada memperkenalkan istilah soundscape untuk menggambarkan lanskap suara suatu tempat, mencakup suara alam non-biologis (geophony) seperti suara angin dan air; suara makhluk hidup (biophony) termasuk suara burung, serangga dan manusia; serta suara buatan manusia (anthrophony) seperti musik dan suara mesin.

Konsep ekologi akustik yang dicetuskan oleh Schafer menawarkan pendekatan berbeda dalam membaca keadaan lingkungan yaitu dengan mendengar. Dalam hal ini, suara dipandang sebagai data ekologis, warisan budaya, dan peringatan dini atas kerusakan lingkungan yang tak selalu kasat mata.

Mendengarkan Meratus

Konsep ekologi akustik tersebut menemukan relevansinya dalam pengembangan geopark sebagai destinasi wisata berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya adalah Geopark Meratus di Kalimantan Selatan, taman bumi yang baru saja mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp).

Geopark Meratus memiliki luas wilayah sekitar 3.645 kilometer persegi dan mencakup enam kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan.

Geopark adalah konsep pengembangan kawasan yang menggabungkan unsur konservasi, edukasi, budaya dan ekonomi rakyat. Meski setiap geopark diawali dengan kisah pembentukan muka bumi jutaan tahun lalu, ia tidak hanya berbicara mengenai batuan purba.

Benar, bahwa proses pembentukan batuan itulah yang menjadi titik awal, yang mempengaruhi jenis flora dan fauna, bahkan budaya dan cara hidup manusia di tempat tersebut. Namun yang tidak kalah penting dari pengembangan sebuah geopark adalah keberlangsungan hidup makhluk-makhluk di dalamnya. Oleh karena itu, unsur konservasi di sini menjadi begitu penting.

Konsep ekologi akustik di Geopark Meratus dapat menjadi bagian dari pendekatan pelestarian alam yang menggabungkan lanskap suara dengan konservasi, penguatan kearifan lokal, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Dari sisi konservasi, aktivitas merekam suara satwa liar dapat dilakukan dengan menempatkan mikrofon khusus di titik-titik strategis. Dari rekaman tersebut bisa diketahui spesies apa yang aktif dan apakah kondisi mereka masih baik-baik saja.

Masyarakat lokal bisa dilibatkan dalam proyek dokumentasi suara ini untuk memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Geopark Meratus. Dalam pemetaan akustik partisipatif tersebut, masyarakat lokal dilatih untuk merekam dan mengarsipkan suara khas kampung mereka sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.