Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RI Masih Hadapi Fase Deindustrialisasi yang Berkepanjangan

24 Selasa, 08 Jul 2025, 01:20 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Masih Hadapi Fase Deindustrialisasi yang Berkepanjangan RI Masih Hadapi Fase Deindustrialisasi yang Berkepanjangan Doc: istimewa
Ket. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan rasio kontribusi industri pengolahan nonmigas (manufaktur) domestik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 18,66 persen pada 2026.

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan rasio kontribusi industri pengolahan nonmigas (manufaktur) domestik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 18,66 persen pada 2026. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Senin (7/7) mengatakan target tersebut sebagai bagian untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 8 persen sesuai Astacita Presiden Prabowo Subianto. 

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Daerah Istimewa Yogyakarta, Tim Apriyanto menilai target tersebut cukup realistis di tengah tren deindustrialisasi di Indonesia yang masih terus berlangsung.

Dia mengatakan angka tersebut secara teknokratis dapat dipahami, namun seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak bahwa sektor manufaktur belum mampu keluar dari tren penurunan kontribusi yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

“Kita masih menghadapi fase deindustrialisasi yang berkepanjangan. Artinya, belum ada loncatan besar dalam industrialisasi nasional,” kata Tim di Yogyakarta, Senin (7/7).

Ia menjelaskan bahwa kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB Indonesia pernah berada di posisi yang jauh lebih tinggi. Pada tahun 2010, kontribusinya mencapai 24,79 persen dan masih berada di kisaran 21 persen hingga 2014. Namun sejak itu, angkanya terus menurun. Pada 2018 kontribusinya tinggal 19,86 persen dan pada kuartal I 2019 tercatat 20,07 persen. Pandemi kemudian mempercepat tren penurunan ini.

“Kita dulu bisa di atas 24 persen, dan sekarang mengejar 18 persen saja sudah dianggap cukup, itu menunjukkan adanya pelemahan struktural. Ini bukan hal baru, tapi belum juga berhasil kita balikkan arahnya,” jelasnya.

Menurutnya, yang lebih krusial dari sekadar target angka adalah ketiadaan peta jalan konkret yang menunjukkan bagaimana target itu akan dicapai secara strategis.

“Hal yang jadi masalah adalah, dari target ini kita belum melihat sektor mana yang akan jadi tulang punggungnya. Tanpa arah yang jelas, sulit berharap industri kita bisa tumbuh lebih cepat,” tambahnya.

Ia pun menekankan strategi industrialisasi tidak bisa lagi memakai pendekatan generik, melainkan harus disesuaikan dengan kekuatan riil Indonesia sebagai negara agraris dan maritim.

“Indonesia ini agraris dan maritim. Maka industri yang dibangun seharusnya bertumpu pada kekuatan pangan, hasil laut, pengolahan pertanian, serta industri berbasis bioekonomi. Bukan malah terpaku pada model industrialisasi berbasis impor bahan baku,” kata Tim.

Dia juga menyoroti sejumlah tantangan mendasar seperti biaya logistik yang tinggi, kebergantungan pada bahan baku impor, hingga lemahnya penguasaan teknologi industri di tingkat domestik.

“Kalau masalah struktural ini tidak diselesaikan, maka angka 18 persen bukan batas bawah, tapi bisa jadi plafon yang sulit ditembus,” katanya.

Demanufakturisasi

Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, memang sudah seharusnya kontribusi industri manufaktur non migas harus dinaikkan, karena Indonesia terlalu cepat terjadi demanufakturisasi, di tengah dominasi ekspor yang umumnya komoditi primer dengan nilai tambah kecil.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cepat struktur industri yang seharusnya pada level pendapatan per kapita menengah, sektor industri masih mendominasi. Namun ternyata industri jasa mampu memanfaatkan terutama dalam perdagangan, sehingga menyalip sektor manufaktur. Namun sayangnya sektor jasa tidak banyak menyerap tenaga kerja.

Oleh karena itu menurutnya perencanaan industri harus meningkatkan kontribusi industri manufaktur yang punya daya serap tenaga kerja tinggi. “Dengan demikian dapat menciptakan struktur ekonomi yang kuat,”ungkapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage
Ekonomi
Sebanyak 60 UMKM Ramaikan F...
Nasional
Penyaluran Bantuan Air Bers...
Megapolitan
Lapak Baca Gratis Hadir unt...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.