Cerita Inspiratif UMKM Lokal dalam Ciptakan Sambal yang Digemari
Minggu, 06 Jul 2025, 19:05 WIBLebih dari sekadar pelengkap makanan, sambal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner asal Indonesia. Hampir setiap daerah di Nusantara memiliki karakter sambalnya masing-masing, mulai dari yang segar, manis, hingga pedas.
Bagi banyak orang Indonesia, makan tanpa sambal seringkali terasa kurang lengkap, karena sambal bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang kenangan, rumah, cerita keluarga, dan masakan yang selalu dirindukan. Berbicara mengenai sambal, muncul nama UMKM yang berhasil mencuri perhatian, yaitu Sambal Nagih.Â
Didirikan oleh pasangan suami istri berusia 28 tahun, Sambal Nagih tidak lahir dari dapur pabrik besar, melainkan dari dapur rumah yang penuh semangat eksperimen dan sukses meraih peluang di pasar kuliner digital bersama Shopee.
Founder dari Sambal Nagih Anita Hartati, membagikan kisah awal perjalanannya, bisnisnya mulai tujuh tahun lalu bersama suami. Awalnya ia hanya berjualan ayam geprek rumahan secara online dan sambalnya itu cuma pelengkap, tapi ternyata sambalnya yang malah menjadi primadona.
Waktu itu ia mengaku tidak punya latar belakang bisnis, tidak punya modal besar juga, tapi kami percaya sama rasa dan keyakinan âmulai aja duluâ. Sambal ini lahir dari dapur rumah, dari resep yang dulu suami buat pas masih pacaran.
âSekarang, kami kemas ide jualan sambal ini dalam kemasan toples agar dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, bahkan di luar kota. Semua kami pelajari sambil jalan, baik cara berjualan di pasar digital lewat Shopee, hingga cara branding, marketing, operasional, dan packaging yang aman.â
Cita Rasa Otentik
Industri sambal lokal saat ini sangat kompetitif, dipenuhi oleh banyak pemain besar dengan strategi pemasaran yang agresif. Namun, Sambal Nagih berhasil membedakan diri melalui cita rasa yang otentik serta inovasi varian produk yang relevan dengan selera konsumen masa kini.
Sambal Nagih menghadirkan beberapa varian rasa, seperti Sambal Matah, Sambal Cakalang, Sambal Cumi, Sambal Cabe Ijo, Sambal Terasi, Sambal Roa, hingga Sambal Bawang yang menjadi favorit pelanggan. Bahkan produk selain sambal seperti, Kremes Ayam ternyata juga menjadi salah satu item terlaris di Shopee.
Memasuki pasar digital, Sambal Nagih beradaptasi dengan cepat mengikuti perubahan tren belanja konsumen. Sejak bergabung dengan Shopee pada tahun 2019, transformasi bisnis pun semakin terasa. Bersama Shopee, Sambal Nagih berhasil menjangkau audiens yang lebih luas di berbagai daerah.
Tak sekadar sebagai platform penjualan, Shopee menjadi ruang tumbuh yang mendukung brand lokal melalui kampanye tematik, flash sale, dan program promosi lainnya.Bahkan Sambal Nagih turut merasakan peningkatan omset lebih dari 3x  lipat selama Big Ramadan Sale 2025 dibanding tahun lalu.
âSenang sekali tentunya, kami merasa Shopee sangat mendampingi kami sebagai UMKM. Walaupun kami baru secara aktif memanfaatkan Shopee Live pada Juni 2025, dampaknya langsung terasa. Kami bisa menjelaskan rasa dan bahan baku secara langsung, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menunjukkan proses packing hingga produk siap dikirim,â kata Anita.
Apa yang dilakukan itu akhirnya membangun kepercayaan dan membuat pelanggan merasa lebih dekat. Tak hanya itu, menurut Anita perjalanan Sambal Nagih juga tak lepas dari Shopee Ads yang membantunya sampai di titik ini.
Meski terbilang baru, Sambal Nagih telah menunjukkan pertumbuhan pesat, didukung oleh tingginya repeat order dari pelanggan Shopee yang puas. Keberhasilan ini tidak lepas dari komunikasi yang konsisten dengan pelanggan dan komitmen kuat terhadap kualitas.
Sambal Nagih selalu menggunakan bahan baku terbaik dan menolak menurunkan standar demi efisiensi biaya. Bahkan dalam pengemasan, setiap detail diperhatikan: dikemas dalam toples bersegel, kardus berdesain menarik, dan dibungkus bubble wrap untuk memastikan keamanan pengiriman sekaligus tampilan yang layak sebagai oleh-oleh.
Perlu Keberanian
Bagi Anita, membangun Sambal Nagih bukan hanya soal menciptakan produk, tapi juga tentang mewujudkan visi: menjadikan sambal sebagai simbol keberanian anak muda dalam melestarikan cita rasa lokal lewat inovasi yang relevan. Pada usianya yang belum menginjak 30 tahun, ia telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memulai, selama ada kemauan, konsistensi, dan keberanian untuk belajar.
âAnak muda punya peran besar dalam menjaga budaya, termasuk lewat makanan. Kita nggak harus selalu menciptakan sesuatu yang baru dari nol, kadang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membungkus kembali apa yang sudah kita cintai sejak kecil, seperti mengolah sambal dengan cara yang lebih kekinian,â jelas Anita.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Netflix Konfirmasi Sekuel Film Serial "Peaky Blinders"
-
Open Ship KRI Bima Suci Ramaikan Kartika Jala Krida 2026, Libatkan 23 Negara
-
Kemenhub Berangkatkan 10 Bus Mudik Gratis Tujuan Jawa dan Sumatera
-
UMKM Dibina untuk Makin Mandiri
-
Pemprov Kaltim Jamin Tak Ada PHK pada 11.881 PPPK, meski Ada Efisiensi
-
Pertemuan G7 Akan Bahas Dampak Perang Timur Tengah
-
ASDP Ambon Operasikan Kapal 24 Jam pada H+7 Lebaran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.