Wamenkomdigi: AI dan Blockchain Bisa Cegah Kebocoran Perdagangan Nasional

Jumat, 24 Jul 2026, 05:00 WIB

Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang dipadukan dengan teknologi blockchain berpotensi meningkatkan efisiensi sistem perdagangan nasional sekaligus menekan kebocoran yang selama ini membebani aktivitas ekonomi.

Menurut Nezar, digitalisasi rantai perdagangan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir akan membuat proses bisnis lebih transparan, efisien, dan mampu mengurangi potensi kecurangan yang berdampak pada biaya ekonomi.

Ket. Foto: Wamenkomdigi Nezar Patria didampingi Kepala BPSDM Komdigi Boni Pudjianto, Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Komdigi Said Mirza Pahlevi, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Aryo Pamoragung saat menerima audiensi BRAIN IPB University di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (22/7). — Sumber: Antara

"Kalau bisa dibuat satu sistem perdagangan yang pencatatannya lebih akurat, kita bisa mencegah kebocoran. Produksinya juga bisa lebih baik karena kita dapat mendeteksi titik-titik kehilangan sehingga optimasi bisa dilakukan," kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (23/7).

Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Blockchain, Robotics, and Artificial Intelligence Network (BRAIN) IPB University di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta.

Nezar menjelaskan, teknologi blockchain dapat menciptakan sistem pencatatan transaksi yang transparan, aman, dan sulit dimanipulasi. Sementara itu, AI mampu dimanfaatkan untuk memprediksi permintaan pasar, mengoptimalkan proses produksi, hingga meningkatkan efisiensi distribusi barang.

Menurut dia, penerapan kedua teknologi tersebut dapat memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor industri dan perdagangan Indonesia.

Ia menambahkan, selama ini setiap perpindahan data, pembayaran, maupun logistik dalam rantai perdagangan menimbulkan biaya tambahan yang pada akhirnya mengurangi efisiensi usaha.

Karena itu, pemerintah mendorong terciptanya sistem digital yang terintegrasi (end-to-end) sehingga proses perdagangan dapat berlangsung lebih cepat dengan biaya transaksi yang lebih rendah.

"Setiap perpindahan moda ada biaya. Pindah ke platform lain, ada biaya lagi. Karena itu sekarang arahnya adalah sistem yang seamless, end-to-end, sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien," ujarnya.

Nezar menilai pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat transformasi digital pada sektor-sektor produktif, khususnya agroindustri yang selama ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Teknologi bisa membantu sistem perdagangan menjadi lebih baik, pencatatannya lebih akurat, dan berbagai potensi fraud dapat ditekan," katanya.

Ia juga mengapresiasi peran kalangan akademisi dalam mengembangkan teknologi strategis, termasuk blockchain dan komputasi kuantum (quantum computing), yang dinilai dapat mendukung transformasi ekonomi digital Indonesia.

Menurut Nezar, kolaborasi pemerintah dengan perguruan tinggi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang mendukung kebutuhan industri nasional serta memperkuat daya saing ekonomi.

"Kita harus terus memasang mata dan telinga terhadap perkembangan teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana solusi-solusi digital yang dikembangkan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mendukung program-program strategis nasional," ujar Nezar.

  • ekosistem kecerdasan buatan (AI)

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.