BI Bunyikan Alarm: Ketidakpastian Global Belum Mau Pergi, Jangan Terlena!
Rabu, 18 Jun 2025, 15:59 WIBJAKARTA â Ketidakpastian ekonomi global memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek, termasuk pertumbuhan ekonomi, investasi, perdagangan, dan stabilitas keuangan.
Ketidakpastian ini dapat memicu penurunan investasi asing, perubahan regulasi bisnis, kesulitan perizinan, dan bahkan dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja di sektor-sektor tertentu.
Bank Indonesia (BI) memprakirakan ketidakpastian perekonomian global masih tetap tinggi ke depan akibat masih berlangsungnya negosiasi tarif antara AS dan sejumlah negara, serta eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Kondisi ini memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Juni 2025 di Jakarta, Rabu (18/6).
BI menilai saat ini ketidakpastian perekonomian global sedikit mereda, meskipun tetap tinggi akibat dinamika negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Perry mencatat berbagai indikator menunjukkan kebijakan tarif Amerika Serikat berdampak pada melambatnya ekonomi dunia.
Pertumbuhan ekonomi di negara maju, yaitu Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun, di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara tersebut.
Ekonomi Tiongkok pun melambat akibat menurunnya ekspor terutama ke Amerika Serikat di tengah perlambatan permintaan domestiknya.
Sedangkan, ekonomi India diperkirakan tumbuh baik terutama didorong oleh masih kuatnya investasi.
"Dengan perkembangan tersebut, prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 tetap sebesar 3 persen," kata Perry.
Sementara itu, tekanan inflasi di Amerika Serikat menurun sejalan dengan ekonomi yang melambat meskipun terjadi kenaikan inflasi pada kelompok barang akibat kebijakan tarif, sehingga memperkuat ekspektasi terhadap arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) atau suku bunga kebijakan moneter Bank Sentral AS ke depan.
Di pasar keuangan global, pergeseran aliran modal dari Amerika Serikat ke aset yang dianggap aman dan juga ke aset keuangan emerging market terus terjadi.
Perkembangan ini pun mendorong berlanjutnya pelemahan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Candi Jabung Probolinggo Diharapkan jadi Ekosistem Budaya
-
Wapang TNI: Koperasi Desa Merah Putih Harus Dipercepat
-
Energi Terbarukan Lampaui Target Nasional, Ini Kata Kementerian ESDM
-
Kubu Raya Kalbar Waspada Karhutla, Status Siaga Darurat Berlaku
-
KPK Tetapkan 5 Tersangka dari OTT Dugaan Suap Pemeriksaan Pajak di Jakarta Utara
-
Prambanan Shiva Festival Perkuat Daya Tarik Wisata Religi Yogyakarta
-
Lanud Sultan Hasanuddin Kerahkan Helikopter Caracal dan Boeing Intai, Lokasi Jatuhnya ATR 42-500 Teridentifikasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.