Jaga Stabilitas Harga Ayam, Kementan Pantau dan Kendalikan Produksi DOC Broiler
📅 Minggu, 18 Mei 2025, 22:14 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
SUBANG- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengupayakan stabilitas perunggasan melalui berbagai strategi mulai dari level hulu untuk merespon fluktuasi harga ayam pedaging (broiler) di tingkat peternak. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengendalian produksi anak ayam umur sehari (DOC) broiler oleh perusahaan pembibit yang dilakukan secara mandiri.
Langkah ini mengacu pada Permentan Nomor 10 tahun 2024 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Pengendalian produksi diawali penerbitan surat himbauan dari Kementan agar perusahaan pembibit melaksanakan pengendalian produksi DOC dengan mengurangi jumlah telur tetas fertil dan afkir dini parent stock (PS) umur 55 minggu.
Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, melakukan kunjungan ke unit penetasan (hatchery) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (17/5). Kunjungan ini melibatkan Balai Veteriner Subang, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Subang.
Dua hatchery yang dikunjungi yaitu milik PT Japfa Comfeed Indonesia dan PT Charoen Pokphand Jaya Farm. Kunjungan ini bertujuan memantau langsung pelaksanaan pengendalian produksi dan distribusi DOC broiler di lapangan.
“Unit penetasan merupakan basis awal produksi ayam ras pedaging. Oleh karena itu, kontrol terhadap proses penetasan dan distribusinya menjadi sangat krusial dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan,” ujar Hary.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, hasil pemantauan di lapangan akan memberikan informasi penting tentang perkembangan industri pembibitan dan pergerakan distribusi DOC broiler, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Pemerintah juga mengimbau agar organisasi perangkat daerah (OPD) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan dapat melakukan pemantauan secara berkala terhadap unit-unit penetasan di wilayahnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Linda Al Amin menambahkan bahwa kondisi pasar pasca Lebaran menunjukkan penurunan daya beli masyarakat secara signifikan. “Akibatnya, pemotongan ayam menurun, sementara distribusi dari luar tetap masuk ke Jawa Barat. Hal ini menyebabkan kelebihan pasokan dan berdampak langsung pada harga di tingkat peternak,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada intervensi konkret dari pemerintah daerah.
“Pengaturan produksi dan distribusi DOC broiler adalah kunci utama dalam menstabilkan harga ayam pedaging sekaligus melindungi kelangsungan usaha peternak mandiri di berbagai daerah,” ujarnya.
Pemda punya Kendali
Hary mengrapresiasi komitmen daerah untuk mengatur penyediaan dan kebutuhan ayam ras di wilayah masing masing. Menurutnya Pemda memiliki kendali terhadap pemasukan dan pengeluaran komoditas peternakan seperti ayam ras. Lebih lanjut Hary menekankan kepada seluruh perusahaan pembibit ayam ras agar melaksanakan pengendalian produksi secara mandiri sesuai surat imbauan dimaksud.
Sejalan dengan langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan harga dan distribusi ayam hidup di tingkat peternak, pelaku industri perunggasan nasional seperti PT Charoen Pokphand Jaya Farm dan PT Japfa Comfeed Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendukung kebijakan pengendalian produksi.
Upaya ini dinilai penting guna menyeimbangkan suplai dan permintaan di pasar serta mencegah fluktuasi harga yang merugikan peternak. “Kami sangat berkomitmen untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga serta mengikuti seluruh instruksi dari Kementerian Pertanian, terutama dalam pengendalian produksi DOC agar distribusi ayam hidup tetap seimbang dan harga di tingkat peternak tetap menguntungkan,” ujar Agung Prasetyo,General Manager Hatchery Area Jawa Barat PT Charoen Pokphand Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!