Begini Cara Budayawan Banyumas Rawat Kelestarian Gunung Slamet
📅 Minggu, 18 Mei 2025, 20:52 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: ANTARA/Sumarwoto
BANYUMAS - Alunan suara kidung berbahasa Jawa itu memecah kesunyian salah satu petak lahan di lereng selatan Gunung Slamet di Dusun Sirongge, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (18/5).
Kidung itu dilantunkan oleh seorang perempuan pelaku seni yang akrab disapa Bibi Retno untuk mengiringi kegiatan penanaman bibit pohon tahunan yang diinisiasi Yayasan Dhalang Nawan, dengan menggandeng sejumlah budayawan, pelaku seni, dan pegiat lingkungan dari wilayah di sekitar Gunung Slamet, seperti Kabupaten Banyumas, Pemalang, dan Brebes.
Kidung yang ditembangkan oleh budayawan di Gunung Slamet tersebut mengandung makna ajakan untuk berserah kepada kekuasaan Tuhan dengan legawa dan memusatkan pancaindra untuk melihat kehidupan melalui kesunyian, guna menyiapkan diri dalam membangun darma bakti.
Bersamaan dengan penanaman seratusan bibit pohon itu, Bibi Retno pun memasukkan cokbakal berupa sebuah kendil berisi bumbu dapur, telur, dan sebagainya ke dalam lubang untuk ditanam bersama salah salah satu bibit pohon nagasari.
Dalam falsafah Jawa, apa yang ada di dalam cokbakal tersebut merupakan simbol-simbol yang dibutuhkan umat manusia, misalnya bumbu dapur dibutuhkan untuk memberikan rasa pada makanan maupun untuk kesehatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, penanaman cokbakal itu sebagai simbol dari harapan agar bibit pohon yang ditanam dapat memberikan kebaikan bagi umat manusia, berupa lingkungan yang lestari khususnya lereng Gunung Slamet yang saat sekarang mengalami kerusakan akibat alih fungsi dari hutan lindung menjadi lahan pertanian.
"Ini memang bentuknya menanam pohon, tapi tujuannya, niat kami adalah niat untuk konservasi, niat untuk menjaga kehidupan, terutama di lereng Gunung Slamet. Kami menyerukan upaya penyelamatan Gunung Slamet yang saat sekarang mengalami kerusakan," kata Ketua Yayasan Dhalang Nawan Bambang Barata Aji.
Kerusakan tersebut, di antaranya akibat adanya pembukaan kawasan hutan untuk proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTB) yang akhirnya terhenti karena tidak menemukan sumber panas bumi di Gunung Slamet. Sementara di sisi barat Gunung Slamet terdapat pembukaan hutan untuk lahan tanaman kentang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, para pegiat lingkungan bersama sejumlah pemangku kepentingan mengampanyekan upaya untuk menjadikan Gunung Slamet sebagai taman nasional dalam rangka konservasi guna menyelamatkan gunung terbesar di Pulau Jawa tersebut dari kerusakan yang lebih parah.
Taman nasional
Upaya menjadikan Gunung Slamet sebagai taman nasional terus disuarakan oleh para pegiat lingkungan, hingga akhirnya terbentuk Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang berada di sisi utara gunung itu.
Ketua Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional Andi Rustono mengatakan presidium tersebut tidak sekonyong-konyong lahir dan dibentuk, namun telah melalui diskusi-diskusi kecil di sejumlah wilayah yang berada di sekitar Gunung Slamet.
Hingga akhirnya diadakan Kongres Selamatkan Gunung Slamet di Karanglewas, Kabupaten Banyumas, pada tanggal 26 Oktober 2024, dengan berbagai macam variabel, isu, tantangan, serta problematika masyarakat gunung bahwa di sana ada kehidupan, perhutanan sosial, pariwisata, dan sebagainya.
Mereka menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan untuk melawan, tetapi hanya mengingatkan bahwa kalau memang Gunung Slamet dianggap rusak agar tidak bertambah rusak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!