Kadin Bicara Blak-blakan: Industri Nasional Butuh Perhatian Serius!
Kamis, 15 Mei 2025, 16:21 WIBJAKARTA - Penguatan industri nasional sangat penting karena merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing global.Â
Industri yang kuat dapat mengurangi ketergantungan pada impor, meningkatkan nilai tambah dalam negeri, serta mendorong pembangunan berkelanjutan.Â
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional (Bippenas) Bayu Priawan Djokosoetono berharap pemerintah terus mendorong penguatan industri nasional.
âIndustri nasional harus didorong ekspansi agar tumbuh lebih tinggi, selain meningkatkan ekspor melalui rantai pasok global, kita juga harus memperkuat domestic-linkage,â kata Bayu, di Jakarta, Kamis (15/5).
Bayu menuturkan pada kuartal I-2025 sektor industri pengolahan tumbuh 4,55 persen, padahal kontribusinya terhadap total perekonomian paling tinggi yaitu 19,25 persen.
S&P Global baru saja merilis data Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia April 2025 turun ke 46,7, menandakan industri pengolahan bulan April mengalami kontraksi.
Untuk itu, Kadin mengajak semua pihak untuk mengatasi hambatan usaha, mempercepat realisasi investasi, dan mengoptimalkan belanja pemerintah dalam meningkatkan ekonomi domestik.
Ketua Komite Tetap Perencanaan Ekonomi dan Moneter Bippenas-Kadin Indonesia Ikhwan Primanda mengajak semua pihak untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
âPerizinan usaha harus dipercepat, hambatan investasi harus diberantas, dan pembukaan pabrik harus dipermudah oleh semua pihak," ujar Ikhwan.
Sektor konstruksi yang kontribusinya 9,84 persen terhadap perekonomian hanya tumbuh 2,18 persen, sedangkan sektor real estate hanya tumbuh 2,94 persen.
Pemerintah perlu mempercepat belanja infrastruktur untuk menggerakkan sektor konstruksi, tetapi harus difokuskan ke proyek-proyek yang efek gandanya (multiplier effect) besar dan dampak ekonominya cepat dirasakan masyarakat luas.
Keterlibatan swasta dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) juga harus didorong dan dipermudah guna meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan BUMN.
Kadin Indonesia juga berharap dilibatkan dalam program 3 juta rumah, renovasi 11 ribu sekolah, dan pembangunan 30 ribu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar segera terealisasi sesuai target. Program-program tersebut diharapkan bisa menambah pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 sekitar dua persen.
"Dampak konstruksi 3 juta rumah/apartemen, renovasi sekolah, dan dapur SPPG tersebut terhadap perekonomian nasional semakin optimal jika material dan tenaga kerjanya semaksimal mungkin dari dalam negeri," ujarnya pula.
Pembentukan Modal Tetap Bruto atau investasi yang menjadi penopang terbesar kedua dari total pengeluaran (demand side) hanya tumbuh 2,12 persen pada kuartal I-2025. Padahal investasi penting untuk menciptakan lapangan kerja baru.
Kadin mengajak semua pihak untuk mempermudah investasi, terutama di sektor industri pengolahan dan konstruksi yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi untuk perekonomian dan bisa menciptakan banyak lapangan kerja yang berkualitas.
Undang Undang Cipta Kerja dan peraturan-peraturan turunannya harus terus didorong implementasinya ke seluruh instansi dan dinas-dinas terkait hingga tingkat satuan pemerintahan terkecil di daerah-daerah.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pengusaha industri manufaktur tetap mencatatkan optimismenya di tengah dinamika tekanan perekonomian, seperti masifnya produk impor dan perang tarif yang dampaknya mulai dirasakan industri nasional.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif, di Jakarta, Rabu (26/3), menyatakan optimisme pelaku industri manufaktur tersebut tercermin dari laporan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Maret 2025 yang masih berada di level ekspansi yakni di angka 52,98 poin.
Febri mengatakan ekspansi IKI bulan Maret ini ditopang oleh geliat dari 21 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan IV tahun 2024 mencapai 96,5 persen.
"Untuk dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri percetakan dan reproduksi media rekaman, serta industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, sedangkan dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri furnitur, serta industri karet, barang dari karet dan plastik," ujarnya lagi.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Padang Jadi Percontohan Digitalisasi Bantuan Sosial
-
Era Baru Arsitektur Dimulai! Tiga Raksasa Bangunan Luncurkan Inovasi di ARCH:ID 2026
-
ASN WFH: Kemenperin Pastikan Layanan Publik Sektor Industri Tak Kendor
-
Lebaran Puskesmas Tutup, Warga Bandung Kesulitan Akses Kesehatan, Ini Kata KDM
-
HKI: Pembentukan Satgas De-Bottlenecking oleh Presiden Dorong Optimalisasi Kawasan Industri di Tengah Dinamika Global
-
Tiket Lebaran KAI 2026 Tembus 3,48 Juta, Okupansi Harian Lampaui 100 Persen
-
Perkuat Tata Kelola Lingkungan Kawasan Industri, Kemenperin Sosialisasi Aturan Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.