Ormas Preman Meresahkan Pedagang Pasar Induk

Rabu, 14 Mei 2025, 13:32 WIB

JAKARTA – Ormas-ormas preman masih melakukan pungutan liar (pungli) di pasar-pasar. Ulah mereka dikeluhkan para pedagang kaki lima. Preman tersebut berkedok organisasi kemasyarakatan (ormas) yang melakukan pemerasan melalui pungutan liar di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Salah satu pedagang kaki lima (PKL) bernama Karsidi (46) mengatakan, dirinya bersama PKL lainnya harus membayar uang setoran per bulannya kepada preman yang selama ini mengurus PKL. "Setiap bulan harus membayar 1 juta. Tapi nanti setiap hari harus bayar juga uang harian 20.000. Kalau tidak setor ya ga bakal boleh jualan di sini," kata Karsidi di Jakarta Timur, Rabu.

Ket. Foto: preman — Sumber: ist

Para pedagang yang berjualan di depan akses masuk los menduga uang sewa lapak yang diberikan itu hanya masuk ke kantong ormas yang selama ini meminta setiap hari dan setiap bulannya. Kalau dihitung, satu pedagang bayar 1,6 juta. Kalikan saja 150 pedagang.

Kalau ditotal dalam satu bulan berarti uang 225 juta masuk ke kantong mereka sendiri. “Padahal ini lahan kan milik pemerintah daerah," ujar Karsidi.

Karsidi mengaku, aksi itu sudah berlangsung puluhan tahun sejak belum berjualan di Pasar Induk Kramat Jati. Hingga sekarang, dirinya bisa berjualan dengan tenang dan tak ada yang berani melarang PKL berjualan meski memakan badan jalan.

"Karena kalau ada yang melarang, ormasnya pasti langsung turun. Bahkan, beberapa hari lalu kepala sekuriti Pasar Induk Kramat Jati hampir dipukuli oleh oknum ormas saat berupaya melakukan penertiban," katanya.

Sementara itu, para pedagang resmi di dalam los Pasar Induk Kramat Jati yang membayar uang retribusi ke Perumda Pasar Jaya juga keberatan dengan keberadaan PKL yang dinilai mengganggu.

Salah satu pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Riki (51) menyebutkan, keberadaan PKL itu sudah memenuhi pintu masuk sejak puluhan tahun lalu dan jumlahnya mencapai ratusan pedagang. Mereka bebas berjualan dan tidak bisa ditertibkan karena adanya dugaan perlindungan oleh oknum ormas.

Mereka bisa berjualan karena bayar jutaan ke oknum ormas dan sudah puluhan tahun jadi sulit untuk ditertibkan. "Makanya, kami berharap revitalisasi dan penataan segera dilanjutkan dan ketika sudah rapi pasti akan lebih banyak lagi pembeli yang datang," kata Riki.

Riki berharap pihak Kepolisian bisa langsung turun ke lapangan untuk menangkap oknum ormas yang selama ini meresahkan para pedagang akibat premanisme tersebut.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.