Yayasan Nostra Aetate Vatikan Berduka atas Wafatnya Gayatri Wedotami, Tokoh Dialog Lintas Agama dari Indonesia

Selasa, 13 Mei 2025, 15:05 WIB

VATIKAN – Yayasan Nostra Aetate di bawah Tahta Suci Vatikan menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya Raden Ajeng Gayatri Wedotami yang juga dikenal sebagai Gayatri Muthari atau Syekhah Hefzibah, pada pada 10 Mei 2025. Tokoh pemikir lintas iman asal Indonesia ini wafat di usia 45 tahun setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit autoimun lupus.

Dalam pernyataan resmi, Yayasan Nostra Aetate mengenang Gayatri sebagai sosok yang penuh semangat, cerdas, terbuka, dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai perdamaian, kebebasan beragama, serta keadilan gender. Ia juga dikenang sebagai aktivis hak asasi manusia, feminis, penyair, dan mentor spiritual Tarekat Daudiyah di Indonesia.

Ket. Foto: Raden Ajeng Gayatri Wedotami, juga dikenal sebagai Gayatri Muthari atau Syekhah Hefzibah — Sumber: istimewa

Putri dari sastrawan dan akademisi Abdul Hadi WM ini pernah menjadi peserta program beasiswa Nostra Aetate tahun 2011–2012, di mana ia mendalami teologi Katolik dengan penekanan khusus pada dialog lintas agama. Program ini berlangsung di dua universitas kepausan ternama di Roma, Universitas Gregorian dan Universitas St. Thomas Aquinas (Angelicum).

Selama berada di Roma, Gayatri tinggal di Foyer Unitas asrama internasional Katolik yang terletak di jantung kota Roma, tak jauh dari Colosseum. Ia dikenal sebagai pribadi yang antusias belajar, aktif berdiskusi, serta memiliki semangat inklusif dalam membangun jembatan antariman.

“Umumnya, Mba Gayatri adalah seorang wanita Muslim yang berpikiran terbuka dan moderat,” tulis Yayasan Nostra Aetate dalam pernyataan mereka.

Figur Langka

Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue/PCID), Pastor Markus Solo Ktr SVD, turut menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian Gayatri.

Dalam wawancara singkat dari Roma, Pastor Markus mengenang almarhumah sebagai pribadi yang sangat serius mendalami esensi spiritualitas lintas iman.

“Gayatri adalah figur langka dalam dialog antaragama. Ia tidak hanya memahami secara akademik, tapi juga menghayati secara rohani. Dia hidup dalam jembatan – bukan sekadar melintasinya,” ujar Pastor Markus.

Pastor Markus yang juga aktif menjembatani dialog Katolik-Islam di tingkat global, menyebut Gayatri sebagai sosok yang “menggabungkan kepekaan sufistik dengan semangat pemikiran kritis”.

Ia juga menyatakan bahwa Vatikan sangat menghargai kontribusi Gayatri dalam menumbuhkan atmosfer saling pengertian antara umat Katolik dan Muslim, khususnya dari perspektif Asia Tenggara.

Meski dikenal luas sebagai aktivis dan pemikir Islam, Gayatri juga mengalami transformasi spiritual. Pada tahun 2020, ia mengikrarkan sumpah tetap Brahmakarya sebagai Pengantin Elia dan memilih nama spiritual baru: Hefzibah. Sebuah langkah yang mencerminkan komitmennya pada jalan spiritual yang mendalam dan lintas batas.

Selama hidupnya, terutama melalui media sosial seperti Facebook, Gayatri banyak membagikan pemikiran-pemikiran tajam, reflektif, bahkan kerap kontradiktif — namun selalu bertujuan membongkar sekat-sekat semu dalam keberagamaan dan kemanusiaan.

“Mudah-mudahan segala buah pikirannya yang baik dan mendukung kerukunan, keadilan dan perdamaian di Indonesia akan menginspirasi banyak generasi muda,” tulis pihak Yayasan Nostra Aetate.

Kepergian Gayatri menjadi kehilangan besar bagi dunia lintas iman, khususnya bagi mereka yang percaya bahwa agama harus menjadi jalan menuju perjumpaan, bukan perpecahan. Yayasan Nostra Aetate dan jajaran Dewan Kepausan menyampaikan doa dan penghormatan bagi almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan.

“Requiescat in pace. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga warisan pemikiran dan semangat Gayatri menjadi cahaya bagi jalan perdamaian masa depan.”

  • Yayasan Nostra Aetate Vatikan
  • Raden Ajeng Gayatri Wedotami

Redaktur: Sriyono

Penulis: Henri pelupessy

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.