Saham dan Dollar AS Melonjak Seiring Kesepakatan AS dan Tiongkok Mengenai Keringanan Tarif Selama 90 Hari
Selasa, 13 Mei 2025, 14:50 WIBNEW YORK - Saham-saham global menguat, sementara emas dan mata uang safe haven merosot terhadap dollar yang menguat pada Senin (12 Mei) karena AS dan Tiongkok sepakat untuk memangkas sementara tarif timbal balik yang ketat dan bekerja sama guna menghindari rusaknya ekonomi global.
Setelah pembicaraan akhir pekan di Jenewa, Swiss, kedua pihak sepakat bahwa AS akan menurunkan pungutan impor Tiongkok dari 145 persen menjadi 30 persen selama periode negosiasi 90 hari dan Tiongkok akan memangkas bea masuk dari 125 persen menjadi 10 persen.
Saham Wall Street mengalami kenaikan signifikan, dengan indeks S&P 500 melonjak 3,3 persen dan Nasdaq Composite yang berfokus pada teknologi naik 4,4 persen.
Dalam pernyataan bersama pada Senin, Washington DC dan Beijing mengatakan mereka mengakui pentingnya hubungan perdagangan bilateral bagi kedua negara dan ekonomi global, dalam bahasa yang menurut para analis telah mencerahkan prospek pasar.
Indeks yang melacak dollar terhadap mata uang utama lainnya naik lebih jauh dari level terendah tiga tahun bulan lalu dengan kenaikan hampir 1,17 persen, sementara yen Jepang turun 2,1 persen menjadi 148,39 per dollar.
Mundurnya aset-aset safe haven mendorong franc Swiss melemah 1,8 persen pada hari itu, dalam suatu sentakan kelegaan bagi eksportir Swiss dan bank sentral negara itu.
Harga emas, yang mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar US$3.500 bulan lalu dan sering bergerak terbalik terhadap dollar, turun 2,7 persen menjadi US$3.234,8 per ons.
"Ini adalah pemulihan yang sudah biasa setelah pasar mengalami penurunan drastis," kata Gina Bolvin, presiden Bolvin Wealth Management Group di Boston. "Pasar sedang melewati level resistensi dan jika berhasil, ini adalah 'KEMENANGAN' besar bagi Trump, bagi saham, dan bagi investor," imbuh dia.
Euro, yang melonjak pada bulan April karena investor mempertanyakan status dollar yang telah lama dipegang sebagai mata uang cadangan dunia, melemah 1,4 persen pada US$1,1090.
Kit Juckes, kepala strategi valas di Societe Generale, mengatakan jeda tarif merupakan "kelegaan substansial" bagi AS dan Tiongkok.
Dengan kecemasan tarif yang telah menyebabkan beberapa eksportir Tiongkok mempertimbangkan masa depan mereka, data akhir pekan ini menunjukkan harga pabrik di negara itu telah turun paling banyak dalam enam bulan pada bulan April.
Kebijakan perdagangan Trump yang tidak menentu juga telah memicu kekhawatiran atas pendapatan perusahaan AS, karena para investor memasuki pekan ini dengan rasa gugup tentang pembaruan yang akan datang dari raksasa ritel Walmart setelah serangkaian perusahaan multinasional AS menarik perkiraan mereka.
Namun, pada Senin, pedagang komoditas bergegas menilai kembali risiko resesi akibat ketidakpastian tarif, dengan pedagang minyak menetapkan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan depan hampir 1,9 persen lebih tinggi pada US$65,10 per barel, naik dari sekitar US$57 sepekan yang lalu.
Indeks STOXX 600 regional Eropa terakhir diperdagangkan 1,2 persen lebih tinggi, dan Indeks Hang Seng Hong Kong mengakhiri hari dengan kenaikan hampir 3 persen.
Sementara pengumuman tarif Trump pada tanggal 2 April awalnya menyebabkan saham dunia turun tajam, indeks saham global MSCI, yang didominasi AS, diperdagangkan kembali pada level yang terakhir terlihat pada akhir Maret dan naik 2 persen.
Namun, beberapa analis dan investor memperingatkan bahwa ini bukanlah akhir dari pembicaraan perdagangan yang tidak dapat diprediksi antara Gedung Putih dan Beijing dan bahwa segala keringanan mungkin akan segera dibayangi oleh data yang menunjukkan ekonomi AS telah melambat.
Sheldon MacDonald, CIO di perusahaan pengelola aset Inggris Marlborough, mengatakan bahwa meskipun AS mempertahankan tarif 30 persen terhadap Tiongkok, hal ini tetap "negatif" bagi pertumbuhan, karena "kekhawatiran resesi belum sepenuhnya hilang".
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik hampir 10 basis poin pada hari itu, karena harga utang pemerintah turun, dengan pergerakan yang hampir sama untuk obligasi acuan Jerman dan obligasi pemerintah Inggris.
Namun analis di Citi memperingatkan pendukung Trump mungkin tidak mendukung kompromi dengan Tiongkok dan mengingat gencatan senjata perdagangan yang berumur pendek selama masa jabatan presiden pertamanya pada tahun 2018-2019, ketika kedua negara menyetujui penghentian tarif selama 90 hari sebelum ketegangan kembali terjadi.
"Akan butuh waktu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut," kata John Praveen, direktur pelaksana sekaligus kepala investasi di Paleo Leon di New Jersey.
"Sampai kita mencapai kesepakatan akhir di kedua belah pihak, saat Trump dan Presiden Tiongkok Xi bertemu dan berjabat tangan, saat itulah kita akan mulai melihat hari yang cerah," tutur dia. CNA/I-1
- Dollar
- Tiongkok
- Bursa Saham
- Amerika Serikat
- Kesepakatan Tarif
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Berbagai Sumber, Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
AS Cabut Larangan, Rajungan Gillnet RI Bebas Masuk Pasar AS Lagi
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Amerika Serikat dan Vietnam Bersatu, Dominasi Tiongkok di Industri Chip Terancam Runtuh
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.