BMKG Catat 235 Gempa Susulan di Flores

Sabtu, 15 Agu 2026, 17:42 WIB

JAKARTA – BMKG mencatat 235 gempa susulan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Flores. Aktivitas tersebut masih menunjukkan tren tinggi dan belum mengalami peluruhan signifikan hingga Sabtu (15/8) siang.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan gempa susulan berkekuatan antara magnitudo 2,5 hingga 6,2. Seluruh aktivitas tersebut terdistribusi di wilayah sebelah utara Pulau Flores.

Ket. Foto: Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani (tengah) — Sumber: Dokumentasi BMKG

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara dua hingga tiga minggu. Pola tersebut berdasarkan rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar dia saat Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, BMKG terus memantau pergerakan sesar secara langsung untuk mengetahui perkembangan aktivitas kegempaan. Proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu sebelum aktivitas seismik kembali menuju kondisi normal.

Gempa utama sebelumnya dimutakhirkan BMKG menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya dua menit 16 detik setelah gempa utama terjadi.

Peringatan kemudian dimutakhirkan kembali setelah parameter gempa menjadi lebih stabil dan presisi. Pemutakhiran dilakukan sekitar 10 menit setelah gempa utama berlangsung.

Gempa tersebut sempat memicu tsunami di sejumlah kawasan pesisir sekitar Nusa Tenggara. BMKG membagi ancaman menjadi kategori Siaga dan Waspada berdasarkan perkiraan ketinggian gelombang.

Kategori Siaga digunakan untuk potensi tsunami setinggi 0,5 hingga tiga meter. Sementara, kategori Waspada diterapkan untuk potensi gelombang di bawah 0,5 meter.

Jaringan tide gauge mencatat tsunami tertinggi mencapai 1,61 meter di Reo Manggarai dan Manggarai Timur. Gelombang di Maurole Ende tercatat setinggi 0,94 meter.

Gelombang melebihi 0,5 meter juga tercatat di Bulukumba dan Sape Bima. BMKG kemudian mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.

Faisal mengatakan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores. Struktur tersebut dikenal sebagai Flores Back Arc Thrust dan memiliki sejarah gempa merusak.

Pada 1992, kawasan tersebut pernah mengalami gempa magnitudo 7,8 dengan kedalaman sekitar 28 kilometer. Gempa terbaru lebih dangkal sehingga dampaknya terhadap bangunan relatif lebih berat.

BMKG mencatat intensitas guncangan tertinggi mencapai skala VII MMI di sejumlah wilayah Flores. Daerah tersebut meliputi Aesesa, Riung, Kota Ambai, Manggarai, dan Ruteng.

Skala VI MMI tercatat di Wolowae dan Kota Bajawa. Sementara, sejumlah wilayah sekitarnya merasakan guncangan hingga skala V MMI.

BMKG juga menerjunkan tim ahli untuk melakukan pemetaan mikrozonasi dan analisis pascagempa. Tim pusat bersama 14 UPT BMKG NTT menyisir Ngada, Nagekeo, dan wilayah rawan lainnya.

Survei tersebut digunakan untuk mengetahui karakter tanah serta respons wilayah terhadap guncangan gempa. Hasilnya akan menjadi rujukan rekonstruksi dan penguatan bangunan tahan gempa.

BMKG juga terus berkoordinasi dengan BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah. Kolaborasi dilakukan untuk mendukung penanganan darurat sekaligus mempercepat pemulihan masyarakat terdampak.

Masyarakat diminta tetap menjauhi bangunan retak atau rusak karena gempa. Informasi kebencanaan juga diimbau hanya mengacu pada kanal resmi BMKG. ils/I-1

  • Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
  • Gempa di Flores

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.