Bikin Lega! Tarif Impor AS-Tiongkok Turun, UMKM RI Siap Tancap Gas
📅 Selasa, 13 Mei 2025, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
DEPOK – Penurunan tarif impor dalam perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok dinilai menjadi awal yang baik bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tanah air.
Mesi begitu, kondisi itu jangan membuat pelaku UMKM menjadi terlena, karena bisnis merupakan sesuatu hal yang dinamis dan harus terus bergerak.
"Perang dagang sejatinya sudah terjadi sejak ratusan tahun lampau, kita mengenal jalur sutra sebagai jalur perdagangan yang melintasi kawasan Asia, di mana para pedagang jual beli rempah dan produk tenun serta produk perkakas," ujar Konsultan Bisnis Kerakyatan Wirson Selo dalam keterangannya, di Depok, Jawa Barat, Selasa (13/5).
Hasil negosiasi petinggi AS dan Tiongkok di Jenewa Swiss selama 10-11 Mei lalu, tarif impor atas barang Tiongkok turun dari 145 persen menjadi 30 persen, dan tarif Tiongkok untuk barang AS turun dari 125 persen menjadi 10 persen.
Menurut Wirson, perang dagang pada masa modern menjadi isu yang mengguncang, karena adanya regulasi dan pembatasan yang ketat yang diberlakukan oleh setiap negara mempertimbangkan kepentingannya dan memperjuangkan dominasinya masing-masing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setiap negara akan memperjuangkan surplus angka dalam proses terjadinya ekspor impor. Setiap negara menghendaki lebih banyak uang yang diterima daripada uang yang dibayarkan ke negara lain.
Mekanisme perdagangan internasional saat ini setiap negara saling ketergantungan satu sama lain dengan saling bertukar produk.
Setiap negara berjuang untuk memperbesar jumlah barang dan value untuk diekspor dan menekan sekecil mungkin ketergantungannya atas produk impor dari negara lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Proses yang sangat dinamis, bergerak dan bergeser dari waktu ke waktu sepanjang waktu, mencari titik keseimbangan perdagangan (equlibrium point)," kata Wirson.
Ia tidak menampik, pada awal perang dagang AS-Tiongkok sempat membuat para pelaku usaha mencermati produknya secara saksama.
Secara garis besar yang menjadi konsentrasi para pelaku usaha adalah mengecek rantai pasok bahan baku untuk melihat apa saja yang didatangkan dari negara lain, serta mengecek seberapa besar produknya yang diekspor ke negara lain terutama AS.
Sudah pasti, UMKM di Indonesia juga tentu akan terdampak, terutama produk-produk yang marketnya ekspor ke AS, karena dalam proses ekspor sebagian telah terjadi kesepakatan dan kontrak jual beli jauh sebelum kebijakan ini diberlakukan.
Pada titik ini para pelaku usaha gelisah membaca arah dan pastinya memikirkan alternatif negara lain sebagai tujuan ekspor, katanya lagi.
Kegelisahan Sementara
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!