Tarif AS Bikin Indonesia Deg-Degan! Ini Prediksi Mengejutkan BI untuk 2025
📅 Selasa, 06 Mei 2025, 16:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
JAKARTA - Kebijakan tarif AS, khususnya tarif resiprokal, akan membuat produk Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS, sehingga daya saingnya berkurang. Karena harga menjadi lebih mahal, permintaan terhadap produk Indonesia di AS dapat menurun, yang berakibat pada penurunan ekspor.
Beberapa sektor industri seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur yang banyak mengekspor ke AS, akan merasakan dampak negatif dari kebijakan ini. Kebijakan tarif dapat memicu depresiasi rupiah, memperburuk neraca perdagangan, dan bahkan mempengaruhi pasar saham.
Bank Indonesia (BI) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dipengaruhi dampak kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, baik langsung maupun tidak.
"Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan berada pada titik tengah kisaran 4,7-5,5 persen year on year (yoy) dipengaruhi oleh dampak langsung dan tidak langsung kebijakan tarif AS," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/5).
Adapun pada triwulan I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 5,02 persen (yoy), merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (5/5/2025).
Sebaiknya Anda baca juga:
Perkembangan ini dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi domestik dan kinerja ekspor.
Dari sisi pengeluaran, produk domestik bruto (PDB) triwulan I 2025 ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,89 persen (yoy) seiring dengan aktivitas perekonomian dan mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode libur tahun baru dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.
Investasi tercatat tumbuh sebesar 2,12 persen (yoy) sejalan dengan realisasi penanaman modal yang tumbuh positif.
Konsumsi pemerintah terkontraksi sebesar 1,38 persen (yoy) sejalan dengan normalisasi belanja Pemerintah dibandingkan dengan belanja triwulan I 2024 yang tercatat tinggi untuk pelaksanaan Pemilu.
Sedangkan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh positif sebesar 3,07 persen (yoy).
Sementara itu, ekspor tumbuh sebesar 6,78 persen (yoy) ditopang oleh permintaan mitra dagang utama, serta ekspor jasa yang tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara.
Dari sisi lapangan usaha (LU), PDB triwulan I 2025 dipengaruhi LU industri pengolahan dan LU perdagangan, serta LU transportasi dan pergudangan didukung permintaan domestik pada momen Ramadan dan HBKN Idul Fitri, serta peningkatan permintaan eksternal.
Selain itu, LU pertanian juga tumbuh didukung oleh panen raya padi dan jagung.
Adapun dari sisi spasial, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025 secara tahunan tertinggi tercatat di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), diikuti Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!