Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Segera Reformasi Struktural Agar Tidak Terjebak Defisit dan Gagal Bayar Utang

📅 Senin, 05 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Segera Reformasi Struktural Agar Tidak Terjebak Defisit dan Gagal Bayar Utang Doc: istimewa
Ket. Respon Kondisi Global I AS Hanya Meminta Perdagangan yang Adil dan Fair

JAKARTA - Indonesia harus segera melakukan reformasi struktural dalam sistem ekonominya jika tak ingin terjebak dalam defisit besar yang berujung pada ketidakmampuan membayar utang. 

Imbauan tersebut disampaikan pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko saat diminta tanggapannya mengenai dinamika perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta implikasinya terhadap negara-negara mitra dagang seperti Indonesia.

Menurut analisis Aditya, kebijakan tarif baru yang sedang dikaji oleh AS terhadap produk-produk Tiongkok dapat menciptakan pukulan serius terhadap stabilitas dalam negeri negeru Tirai Bambu itu, bahkan bisa mengancam posisi Partai Komunis Tiongkok.

“Kalau tarif diberlakukan, Tiongkok bisa kehilangan 10 juta lapangan kerja. Itu angka yang sangat besar, dan secara politik bisa mengguncang kekuatan pusat mereka,” jelas Aditya.

AS kata Aditya sebenarnya hanya meminta perdagangan lebih adil dan fair, supaya neraca perdagangan mereka berimbang. Sebab, kalau mereka terus berdagang dengan Tiongkok, tapi terus menerus merugi, sudah pasti tidak mau melanjutkan hubungan dagang lagi. Ketika AS memilih untuk tidak melanjutkan hubungan dagang dengan Tiongkok, maka otomatis neraca perdagangan mereka tidak defisit lagi, meskipun implikasi terberatnya pada hilangnya lapangan kerja.

Oleh sebab itu, AS sebaiknya jangan dihadapi dengan keras sebagaiman reaksi keras yang diperlihatkan Tiongkok. Indonesia jangan bersikeras seperti Tiongkok, misalnya soal sistem pembayaran QRIS yang mereka persoalkan karena mengganggu bisnis Visa dan MasterCard.

“Solusinya bukan konfrontasi. Kita justru harus kerja sama, kalau kita tidak buka malah tidak ketemu, padahal kita lebih butuh mereka daripada mereka butuh kita,” ungkap Aditya.

Pemerintah kata Aditya harus benar-benar cermat membaca arah kebijakan luar negeri AS itu. Bukan hanya sekedar perang tarif dan perang dagang, tetapi implikasi dari kebijakan tersebut harus dipahami yang belum mencuat ke permukaaaan.

Kebijakan luar negeri AS, harus dilihat secara komprehensif, misalnya perjanjian mining dengan Ukraina. Meskipun AS habis-habisan mengeluarkan dana besar untuk membantu Ukraina, tapi bagi mereka hal itu tidak masalah yang penting bisa eksis di negara Eropa Timur itu karena punya mineral langka yaitu uranium dan juga ingin masuk di industri real estate.

Dengan adanya klausul AS membantu dengan persenjataan, maka perang akan terus berlanjut meskipun kondisi perekonomian dunia makin melemah. Kemampuan finansial Russia habis terkuras, ?Tiongkok pun demikian masuk krisis dan ekonominya melemah.

Pemerintah Tiongkok sah-sah saja menargetkan pertumbuhan ekonomi 5 persen lebih, tetapi realisasinya hanya 3,5 persen. Tiongkok tidak dalam posisi mendukung secara masif.

“Trump ini sekali menepuk sekaligus tujuh nyawa. Dia lemahkan posisi angkatan perang dan ancaman dari perang itu sendiri. Jadi, tanpa perang, dia sudah melemahkan lawan utamanya,” papar Aditya.

Jika Pemerintah RI memahami semua maksud AS dibalik kebijakan rebalancing itu, maka jangan menganggap Indonesia ditekan dengan pengenaan tarif.

“Ini kesempatan kita merangkul AS untuk meningkatkan daya tawar kita ke AS. Seperti Ukraina dia kasih 50 persen tapi dia dapat modal dan persenjataan. Ukraina makin sulit untuk dikalahkan, bagaimana Russia mau melawan yang kuat tersebut,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

54 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.