Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Saatnya Beralih! Utusan Presiden Ajak Petani Terapkan Pertanian Organik Hewani

📅 Minggu, 27 Apr 2025, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Saatnya Beralih! Utusan Presiden Ajak Petani Terapkan Pertanian Organik Hewani Doc: ANTARA/Ali Khumaini
Ket. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono.

KARAWANG – Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang menggunakan bahan-bahan alami dan menghindari penggunaan bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Pertanian organik memiliki potensi untuk menjadi solusi bagi masalah pangan dan lingkungan, serta menciptakan peluang usaha baru. Pertanian organik memerlukan investasi awal yang lebih besar, membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, dan dapat menghasilkan produk yang lebih sedikit dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mendorong para petani untuk menerapkan pola pertanian organik hewani karena cukup efektif serta mampu meningkatkan produktivitas dan meringankan biaya produksi.

"Kami telah melakukan uji coba (pertanian organik hewani) yang kemudian dapat diimplementasikan," kata Mardiono, usai panen raya di Kabupaten Karawang, Jabar, Sabtu (26/4).

Ia menyampaikan, di Indonesia terdapat 17 juta petani yang mengalami keterbatasan lahan. Sehingga perlu dikelompokkan agar dapat menerapkan pola pertanian organik hewani.

Dalam penerapan pola pertanian organik hewani, katanya, itu sudah ada rumus, yakni 1 hektare sawah itu minimal membutuhkan dua ekor sapi. Jadi jika satu kelompok terdapat 15 hektare, maka dibutuhkan 30 ekor sapi untuk memproduksi pupuk organik.

Menurut dia, dalam prosesnya, pupuk atau kotoran hewan yang berasal dari kandang sapi itu tidak langsung digunakan. Namun harus difermentasi. Sehingga di sekitar kandang harus ada kolam.

Kolam itu berfungsi untuk menampung pupuk cair yang berasal dari kandang sapi. Sehingga saat diperlukan waktu pemupukan, bisa langsung dialirkan ke areal sawah, sesuai dengan kebutuhan jumlah areal sawah.

Proses pemupukan dengan menggunakan organik hewani, atau memanfaatkan kotoran sapi dan domba, itu telah diterapkan Darmono, salah seorang petani di wilayah Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Jabar selama bertahun-tahun.

Ia menyebutkan, pola pertanian organik hewani ini dalam prosesnya akan terintegrasi antara sistem peternakan dengan pertanian.

Dengan menerapkan pola pertanian organik hewani, maka biaya produksi akan ringan, produksi atau panen padi meningkat, dan kondisi tanah sawah menjadi subur. Bahkan serangan hama cukup minim jika menerapkan pola pertanian organik hewani.

Darmono, petani yang menerapkan pola pertanian organik hewani, mengaku telah menerapkan pola pertanian organik hewani sejak tahun 1993.

Untuk hasil panen rata-rata di atas 6 ton gabah per hektare. Tapi panen tertinggi yang pernah dicapai saat beberapa tahun lalu, pernah tembus 21 ton gabah per hektare.

Sedangkan biaya produksinya bisa ditekan hingga di bawah 50 persen. Normalnya, biaya produksi atau pengolahan areal sawah hingga panen itu membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.