Hari Buku Sedunia: Membaca untuk Menyembuhkan
📅 Rabu, 23 Apr 2025, 19:28 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Angga Budhiyanto
JAKARTA - Dunia memeringati 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Bukan sekadar selebrasi literasi, hari tersebut menjadi pengingat bahwa di balik lembaran-lembaran kertas, tersembunyi potensi penyembuhan, pelindung dari penyakit, dan bahkan peta untuk masa depan kesehatan umat manusia.
Ketika membaca, kita bukan sekadar membuka jendela ke dunia luar, melainkan juga membentuk ulang struktur otak, memperkuat sistem imun, dan menciptakan kondisi mental yang kondusif untuk penyembuhan fisik.
Literasi, dalam konteks kesehatan, bukan hanya soal bisa membaca brosur rumah sakit atau petunjuk pemakaian obat.
Literasi kesehatan adalah kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kesehatan secara efektif untuk membuat keputusan yang benar mengenai kesejahteraan diri sendiri dan orang lain.
Di era pascapandemi dan disrupsi teknologi, literasi kesehatan menjadi lebih penting daripada sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bayangkan seorang pasien dengan diabetes tipe 2 di sebuah desa kecil di Indonesia. Ia tidak bisa membaca label makanan dalam kemasan, tidak paham pentingnya indeks glikemik, dan bingung membedakan antara insulin dan metformin.
Dalam kasus seperti ini, ketidaktahuan bukan hanya ketidaknyamanan, tetapi bisa berarti kematian perlahan.
Namun, ketika pengetahuan dibuka melalui buku atau bacaan yang mudah dimengerti, pasien yang sama bisa menjadi pengelola terbaik penyakitnya. Di sinilah buku menjelma menjadi seolah "nanomedikasi". Partikel pengetahuan mikro yang merembes masuk ke dalam neuron, mengaktifkan sinaps, dan secara bertahap tapi pasti, mengubah perilaku.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara neurobiologis, membaca melibatkan jaringan kompleks di otak. Saat kita membaca, korteks prefrontal bekerja keras untuk memahami makna, sementara sistem limbik merespons secara emosional.
Bacaan yang menyentuh mampu mengaktifkan sistem reward dopaminergik, menciptakan rasa puas dan tenang. Ini bukan sekadar hiburan. Ini terapi. Benar, terapi membaca.
Di dalam kajian neurosains, dikenal istilah neuroplastisitas, kemampuan otak untuk berubah berdasarkan pengalaman. Membaca rutin, terutama buku-buku yang menantang kognisi, memperkuat koneksi antar-neuron dan bahkan bisa menunda gejala penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Ini dibuktikan dalam studi longitudinal yang diterbitkan di jurnal Neurology, di mana orang yang rutin membaca mengalami penurunan kognitif yang jauh lebih lambat dibanding mereka yang tidak.
Tak hanya otak, sistem imun kita pun merespons bacaan. Bagaimana bisa? Saat seseorang membaca buku yang membuatnya tenang, tubuh akan mengurangi produksi hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka lama, kortisol dapat menekan sistem imun. Sebaliknya, bacaan yang memberi harapan, optimisme, dan makna hidup dapat meningkatkan kadar imunoglobulin A dalam air liur, garis pertahanan pertama dari sistem kekebalan tubuh.
Kesehatan adalah dialog antara tubuh, pikiran, lingkungan, dan semesta. Buku menjadi medium yang menjembatani ketiganya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!