IHSG Menguat Tipis Awal Pekan Ini, Riding the Asian Wave
📅 Senin, 21 Apr 2025, 19:04 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
JAKARTA - Kinerja pasar saham di dalam negeri mengawali pekan ini dengan catatan positif. Hal itu sejalan dengan tren pasar saham di ranah regional.
Pasar masih harap-harap cemas dengan prospek negosiasi dagang antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah RI dan AS sepakat untuk membahas tarif impor selama 60 hari.
Merespons hal tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/4) sore, ditutup naik tipis mengikuti penguatan mayoritas bursa saham kawasan Asia.
IHSG ditutup menguat 7,70 poin atau 0,12 persen ke posisi 6445,97. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,90 poin atau 0,12 persen ke posisi 721,79.
"Pelaku pasar menilai negosiasi Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan hasil negosiasi yang konkret bagi kedua pihak," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, di Jakarta, Senin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertemuan delegasi Indonesia dengan United States Trade Representative (USTR) dan Departemen Perdagangan AS di Washington DC menyepakati untuk menyelesaikan perundingan tarif perdagangan bilateral dalam jangka waktu 60 hari ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengkhawatirkan terdapat potensi pemberlakuan tarif impor AS terhadap produk Indonesia hingga 47 persen, yang dapat berdampak bagi daya saing ekspor Indonesia, sehingga ke depan dapat memberikan dampak terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia.
Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar 4,33 miliar dolar AS pada Maret 2025, sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Namun pelaku pasar khawatir apabila tarif resiprokal diterapkan oleh AS dapat berdampak terhadap penurunan neraca perdagangan ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari mancanegara, kebijakan Presiden AS Donald Trump diprediksi akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global, setelah International Monetary Fund (IMF) memperkirakan tantangan tarif akan memangkas proyeksi pertumbuhan namun tidak terjadi resesi.
Di sisi lain, pelaku pasar merespon pernyataan Donald Trump di media sosial terkait Ketua The Fed Jerome Powell yang tidak bisa cepat, dan menyerukan The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya.
Pelaku pasar menilai hal itu akan mengancam independensi The Fed, yang mana terlihat Trump tampaknya frustasi karena The Fed belum memangkas suku bunga acuannya.
Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok (PBoC) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah selama enam bulan berturut-turut pada April 2025. Suku bunga acuan pinjaman satu tahun dipertahankan pada 3,1 persen, sedangkan LPR lima tahun tetap pada 3,6 persen.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat di mana sektor teknologi paling tinggi yaitu 3,39 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor industri yang naik masing-masing 1,42 persen dan 0,40 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!