Sikapi Kondisi Bangsa yang tidak Baik-baik Saja, Aktivis 98 Jabar Gelar Silaturahim di Kota Bandung
📅 Minggu, 13 Apr 2025, 19:00 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: istimewa
BANDUNG - Momen Idul Fitri 1446 Hijriah dimanfaatkan oleh sejumlah aktivis 98 Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kota Bandung, untuk berkumpul memperkuat tali silaturahim sekaligus mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi Indonesia yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
Dalam silaturahim yang di Kota Bandung pada Minggu (13/4) itu, selain dihadiri para aktivis 98 Jabar dan KotaBandung, hadir pula aktivis 98 dari provinsi lainnya di seluruh Indonesia. Salah seorang aktivis 98 Bandung, Muhamad Suryawijaya menyampaikan, bahwa kondisi demokrasi Tanah Air saat ini, terutama ekonomi dan segala macamnya menjadi sorotan publik, sehingga halal bihalal ini bisa terwujud.
“Alhamdulillah ternyata teman-teman sangat antusias. Kami juga mengundangadik-adik mahasiswakarena mereka punya keresahan yang sama pada situasi kebangsaan saat ini,” papar Suryawijaya.
Menurut Suryawijaya, situasi sekarang bila dianalogikan sedang turbulensi dan berada dalam pesawat, dengan pilotnya ialah Prabowo Subianto sebagai Presiden. Kalau co-pilot, pramugara, dan pramugarinya itu tidak bisa atasi keadaan di pesawat, maka pesawat akan jatuh dan akan terkena bencana semua. Tapi, kalau misal pembantu-pembantu presiden bisa bekerja dengan baik, tentu akan selamat dalam menghadapi krisis ini.
“Kami minta Presiden Prabowo untuk tidak antikritik atau alergi pada kritik, utamanya yang saat ini sering disuarakan oleh para mahasiswa, semisal adanya demonstrasi menolak RUU TNI,” ungkap Suryawijaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Harusnya, lanjut Suryawijaya, kritik kepada presiden dianggap sebagai protein atau vitamin bahwa demokrasi ini butuh kritik dari bawah. Aktivis 98 Jabar ingin mendorong pemerintahan sekarang bisa bekerja dengan baik dengan orang-orang yang tentunya berkompeten.
Aktivis 98 lainnya, Boy Bawono menyebut tindakan korupsi di Indonesia saat ini sudah menjadi budaya. Padahal, budaya Indonesia, ialah budaya gotong royong. Tetapi, Boy menilai saat ini gotong royongnya lebih ke saling membantu pada hal korupsi sehingga menjadi kebiasaan.
“Jadi, kawan-kawan 98 ini berpikir enggak bisa nih dibiarkan seperti ini terus karena korupsi sudah menjadi budaya. Maka tidak ada cara lain selain lawan dan kembalikan ke posisinya,” tegas Boy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak hanya itu, Muhamad Dawam aktivis 98 lainnya pun memberikan pernyataan bahwa harus ada keberanian mengkritik 200 hari kerja pemerintahan Presiden Prabowo. Pasalnya, Prabowo harus lebih tegas dalam memilih siapa yang baik dalam membantunya. Sebab, saat ini konsep dan program pemerintah tak jelas.
“Jadi, sebelum presidenmemanggil orang-orang untuk mengisi sebuah jabatan, si orang itu harus mempunyai konsep terlebih dahulu guna memberikan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat,” jelas Boy.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!