Tim SAR Terus Cari Korban Gempa, Junta Myanmar Minta Bantuan Internasional

Sabtu, 29 Mar 2025, 10:17 WIB

NAYPYIDAW - Tim penyelamat pada Sabtu (29/3) terus menggali reruntuhan bangunan mencari korban selamat setelah gempa bumi besar melanda Myanmar dan Thailand, Jumat, yang menewaskan lebih dari 150 orang.

Gempa dangkal berkekuatan 7,7 melanda barat laut kota Sagaing di Myanmar tengah pada sore hari, diikuti beberapa menit kemudian oleh gempa susulan berkekuatan 6,7.

Ket. Foto: Seorang pria diselamatkan dari sebuah bangunan runtuh di Bangkok, Thailand, 28 Maret 2025, setelah gempa bumi dahsyat melanda wilayah tersebut. — Sumber: AFP

Gempa menghancurkan bangunan, merobohkan jembatan, dan memutus jalan di sebagian besar wilayah Myanmar, kerusakan parah dilaporkan di kota terbesar kedua, Mandalay.

Setidaknya 144 orang tewas dan lebih dari 700 orang terluka di Myanmar, menurut kepala junta Min Aung Hlaing. Namun, karena komunikasi terganggu, skala sebenarnya dari bencana tersebut belum terungkap dari negara yang terisolasi dan diperintah militer itu.

Gempa kemarin terbesar yang melanda Myanmar dalam lebih dari satu abad, menurut ahli geologi AS, dan getarannya cukup kuat untuk merusak bangunan-bangunan di seluruh Bangkok, ratusan kilometer (mil) jauhnya dari episentrum.

Tim penyelamat di ibu kota Thailand bekerja sepanjang malam mencari pekerja yang terjebak ketika gedung pencakar langit 30 lantai yang sedang dibangun runtuh, berubah dalam hitungan detik menjadi tumpukan puing dan logam bengkok karena kuatnya guncangan.

Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengatakan kepada AFP, sekitar 10 orang dipastikan tewas di seluruh kota, sebagian besar akibat runtuhnya gedung pencakar langit.

Namun, 100 pekerja masih belum diketahui keberadaannya di gedung tersebut, yang dekat dengan pasar akhir pekan Chatuchak yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

"Kami melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang kami miliki karena setiap kehidupan itu penting," kata Chadchart kepada wartawan di lokasi kejadian.

"Prioritas kami adalah bertindak secepat mungkin untuk menyelamatkan mereka semua."

Pemerintah kota Bangkok mengatakan akan mengerahkan lebih dari 100 teknisi untuk memeriksa keselamatan gedung setelah menerima lebih dari 2.000 laporan kerusakan.

Hingga 400 orang terpaksa menghabiskan malam di udara terbuka di taman kota karena rumah mereka tidak aman untuk kembali, kata Chadchart.

Gempa besar sangat jarang terjadi di Bangkok, dan gempa hari Jumat membuat para pembeli dan pekerja berlarian ke jalan karena khawatir di seluruh kota.

Meskipun tidak terjadi kerusakan yang meluas, guncangan tersebut menimbulkan gambaran dramatis dari kolam renang di puncak gedung yang menumpahkan isinya ke sisi blok-blok apartemen dan hotel tinggi di kota tersebut.

Bahkan penghuni rumah sakit dievakuasi, seorang wanita melahirkan bayinya di luar ruangan setelah dipindahkan dari gedung rumah sakit. Seorang dokter bedah juga terus mengoperasi pasien setelah dievakuasi, menyelesaikan operasi di luar ruangan, kata seorang juru bicara kepada AFP.

Junta Memohon Bantuan  

Namun kerusakan terburuk terjadi di Myanmar, negara yang dilanda perang saudara selama empat tahun yang dipicu oleh kudeta militer telah merusak sistem perawatan kesehatan dan tanggap darurat.

Pemimpin junta Min Aung Hlaing mengeluarkan seruan yang sangat jarang untuk bantuan internasional, yang menunjukkan betapa parahnya bencana tersebut. Rezim militer sebelumnya menolak bantuan asing bahkan setelah bencana alam besar.

Negara tersebut mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah yang paling parah terkena dampak pascagempa, dan di satu rumah sakit besar di ibu kota, Naypyidaw, petugas medis terpaksa merawat yang terluka di udara terbuka.

Seorang pejabat menggambarkannya sebagai "daerah yang banyak korbannya".

"Saya belum pernah melihat (sesuatu) seperti ini sebelumnya. Kami sedang berusaha menangani situasi ini. Saya sangat kelelahan sekarang," kata seorang dokter kepada AFP.

Mandalay, kota berpenduduk lebih dari 1,7 juta orang, tampaknya terkena dampak parah. Foto-foto AFP menunjukkan puluhan bangunan hancur menjadi puing-puing. 

Seorang warga yang dihubungi melalui telepon mengatakan kepada AFP, sebuah rumah sakit dan sebuah hotel telah hancur, dan kota itu sangat kekurangan personel penyelamat.

Antrean besar bus dan truk berbaris di pos pemeriksaan untuk memasuki ibu kota pada Sabtu pagi.

Tawaran bantuan asing mulai berdatangan, dengan Presiden Donald Trump pada hari Jumat menjanjikan bantuan AS. 

"Mengerikan," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval tentang gempa tersebut ketika ditanya apakah ia akan menanggapi seruan dari penguasa militer Myanmar.

"Ini benar-benar situasi yang buruk, dan kami akan membantu. Kami sudah berbicara dengan negara tersebut."

India, Prancis, dan Uni Eropa menawarkan bantuan, sementara WHO mengatakan pihaknya sedang memobilisasi diri untuk menyiapkan perlengkapan penanganan cedera trauma.

  • Gempa Myanmar-Thailand

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.