Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Teori Baru Bumi Sangat Basah di Jaman Purba

📅 Rabu, 05 Mar 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Teori Baru Bumi Sangat Basah di Jaman Purba Doc: A. Angelich / NRAO/AUI/NSF

Saat Bumi pertama kali terbentuk, suhunya terlalu panas untuk menahan es. Hal ini menandakan saat itu tidak ada air. lalu dari Ini berarti semua air di planet kita pasti berasal dari sumber luar angkasa.

Penelitian terhadap batuan terestrial purba menunjukkan bahwa air cair sudah ada di Bumi sejak 100 juta tahun setelah Matahari terbentuk. Hal ini secara praktis terjadi ‘segera’ dalam skala waktu astrofisika.

1741102602_a2812ff767b2a319e81c.jpg

Foto: A. Angelich / NRAO/AUI/NSF

Skala waktu dalam astrofisika adalah skala waktu yang diatur oleh proses-proses fisika di dalam bintang, menggambarkan sebuah rentang waktu tahapan evolusi bintang yang dibatasi oleh dua perubahan mencolok akibat perubahan kondisi fisis bintang.

“Air ini, yang kini berusia lebih dari 4,5 miliar tahun, telah diperbarui secara terus-menerus melalui siklus air Bumi. Tim peneliti saya baru-baru ini mengajukan teori baru untuk menjelaskan bagaimana air pertama kali muncul di Bumi,” tulis Quentin Kral, Ahli Astrofisika di L’observatoire de Paris-PSL, CNRS, Sorbonne Université, dan Université Paris Cité.

Ia menambahkan, ahli astrofisika telah bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana air muncul di planet muda kita selama beberapa dekade. Salah satu hipotesis paling awal menunjukkan bahwa air Bumi merupakan produk sampingan langsung dari pembentukan planet, yang dilepaskan melalui magma selama letusan gunung berapi, di mana sebagian besar gas yang dipancarkan adalah uap air.

“Namun, hipotesis ini berkembang pada tahun 1990-an setelah analisis komposisi air Bumi dan penemuan peran potensial komet es, yang menunjukkan asal usulnya dari luar bumi,” ujar Kral dalam tulisan yang diterbitkan di laman The Conversation.

Komet, yang merupakan campuran es dan batu yang terbentuk di bagian terjauh tata surya, terkadang terlempar ke arah Matahari. Saat dihangatkan oleh Matahari, mereka mengembangkan ekor debu dan gas yang mencolok yang terlihat dari Bumi.

Asteroid, yang terletak di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter, juga diusulkan sebagai calon nenek moyang air Bumi. Penelitian tentang komet dan batuan asteroid melalui meteorit pecahan kecil benda-benda ini yang telah jatuh ke Bumi telah memberikan wawasan penting.

Dengan menganalisis rasio D/H proporsi hidrogen berat (deuterium) terhadap hidrogen standar para ilmuwan menemukan bahwa air Bumi lebih mirip dengan air asteroid ‘karbon’, yang memiliki jejak air di masa lalu. Hal ini mengalihkan fokus penelitian ke asteroid ini.

Penelitian terkini berfokus pada identifikasi mekanisme langit yang dapat mengantarkan asteroid kaya air ini ke permukaan kering Bumi purba. Banyak teori telah muncul untuk menjelaskan ‘gangguan’ planetesimal benda-benda es besar di sabuk asteroid dan Kuiper.

Skenario ini mengusulkan interaksi gravitasi yang melepaskan benda-benda ini, mengirimnya melesat ke Bumi. Peristiwa semacam itu akan membutuhkan proses ‘biliar gravitasi’ yang kompleks, yang menunjukkan sejarah Tata Surya yang penuh gejolak.

Meskipun jelas bahwa pembentukan planet melibatkan pergolakan dan benturan yang signifikan, ada kemungkinan bahwa pengiriman air ke Bumi terjadi dengan cara yang lebih alami dan tidak terlalu dramatis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.