Geliat Industri Migas, Kilang Minyak Setengah Juta Bph Segera Dibangun
Rabu, 05 Mar 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Pemerintah berencana pembangunan kilang minyak berkapasitas 500 ribu barel per hari (bph). Ini untuk memastikan pasokan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa mendatang.
"Kita juga akan membangun refinery (kilang minyak) yang Insya Allah kapasitasnya itu kurang lebih sekitar 500 ribu barel. Ini salah satu yang terbesar nantinya, ini dalam rangka mendorong agar ketahanan energi kita betul-betul lebih baik," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Konferensi Pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (3/3).
Kilang minyak ini akan dirancang dengan kapasitas 500 ribu barel per hari serta mampu mengolah minyak mentah dari dalam negeri maupun impor. Kilang ini akan memproduksi berbagai produk minyak bumi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), mencapai 531.500 barel per hari, sehingga dapat memperkuat pasokan energi nasional.
Untuk merealisasikan proyek ini, investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai 12,5 miliar dollar AS. Selain mengurangi ketergantungan pada impor, proyek ini berpotensi menghemat hingga 182,5 juta barel minyak per tahun atau setara 16,7 miliar dollar AS.
Tak hanya itu, pembangunan kilang ini juga membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja, dengan 63.000 tenaga kerja langsung dan 315 riby tenaga kerja tidak langsung.
Di sektor mineral dan batu bara (minerba), Kementerian ESDM akan mempercepat pembangunan industri Dimethyl Ether (DME) yang akan dimanfaatkan untuk substitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Proyek ini direncanakan akan dibangun secara paralel di Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, serta Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur.
"Kita juga akan membangun DME yang berbahan baku daripada batubara low-calorie (kalori rendah) sebagai substitusi daripada LPG. Ini kita akan lakukan agar betul-betul produknya bisa dipasarkan dalam negeri sebagai substitusi impor (LPG)," jelas Bahlil.
Modal Domestik
Pembangunan industri DME kali ini, sambung Bahlil, tidak akan lagi bergantung dengan investor luar negeri, melainkan sumber daya dan modal dalam negeri, yang akan dijalankan melalui kebijakan pemerintah. Selain DME, pemerintah juga akan meningkatkan nilai tambah di sektor pertambangan, seperti tembaga, nikel, dan bauksit hingga menjadi alumina.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Prajurit TNI Todongkan Senjata dan Meletus saat di Bank di Gowa, TNI: Itu Masalah Emosional, Kita Akan Evaluasi
-
Mo Salah Tidak Masuk Skuad Liverpool di Liga Champions Pekan Ini, Mampukah The Reds Kalahkan Inter Milan?
-
Lestari Moerdijat: Menuju Indonesia Emas, Bonus Demografi Harus Dikelola dengan Baik
-
Gubernur Pramono Puji NU dan DLH, Sebut Kerja Sama Sampah Bisa Ubah ‘Beban Jadi Harta Karun’
-
Brigjen Wahyu Yudhayana Jadi Sesmilpres Baru, Ini Sosok dan Rekam Jejaknya
-
Kemenperin: Penguatan Industri Penunjang Migas Modal Penting untuk Tekan Kebergantungan Impor
-
Perkuat Aspek Keselamatan Operasi Migas, PHI Terapkan Program Full Cycle Observation di Wilayah Kalimantan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.