Dua Sahabat Itu Terlelap di Puncak Cartenz
📅 Senin, 03 Mar 2025, 14:45 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Instagram/@explorewithelsa
Pada hari Minggu, 2 Maret 2025, kabar tentang Mamak Pendaki bermunculan di grup WhatsApp sejumlah organisasi atau kelompok mahasiswa pencinta alam (mapala) di Indonesia.
“Dua orang meninggal di puncak Cartenz, Papua,” begitu bunyi berita yang kemudian menjadi viral.
Kabar duka itu kemudian dikonfirmasi oleh Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman yang menyebutkan dua orang meninggal dunia dalam pendakian Puncak Cartensz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya, Mimika, Papua Tengah.
Dan, dua pendaki itu adalah Lilie Wijayanti Poegiono (60) dan Elsa Laksono (60).
Lilie dan Elsa diketahui telah bersahabat sejak SMP, lalu berlanjut di SMA Dempo Malang, Jawa Timur. Mereka sama-sama hobi mendaki gunung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keduanya kelahiran Malang, Jawa Timur, namun bertempat tinggal di lain kota. Lilie di Bandung, Elsa di Jakarta.
Mamak Pendaki dan Mamak Gigi
Mamak Pendaki adalah Lilie, Mamak Gigi adalah Elsa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tapi Lilie dan Elsa bukan mamak-mamak sembarangan. Di akun Instagram Lilie, @mamakpendaki, terekam sudah berapa gunung yang ia daki.
Hasrat berpetualang dan rasa ingin membagikan pengalamannya di atas gunung tertulis dalam profil instagramnya: “Turning 60 and still hiking, aiming to share the beauty&goodness of the mountains with the world”.
Begitu juga Elsa, ia kerap membagikan cerita lewat gambar-gambar yang diambil ketika melakukan pendakian dan berhasil mencapai puncak gunung.
Pertemanan keduanya dimulai sejak bangku SMP, berlanjut ke SMA dan mulailah mereka mendaki bersama, begitu dikisahkan akun Instagram @explorewithelsa.
"Persahabatan kami terputus tanpa kabar berita, aku melanjutkan kuliah dan karir di Telkom, dan Elsa melanjutkan kuliah kedokteran Gigi di Jakarta. Karena itulah Elsa dinamai Mamak Gigi. Komunikasi terbatas, dan hubungan terputus.”
Ketika media sosial marak, bertemulah keduanya dan teman-teman lainnya.
Elsa lah yang memulai bagaimana mereka bisa melanjutkan hobi yang lama terpendam meski usia sudah tak muda lagi.
"Saat itu dia berulang tahun ke 50, dan ketika ditanya mau hadiah apa? Jawabannya adalah hiking ke Gunung Semeru. Jadilah kami bersusah payah penuh drama mendaki gunung Semeru dan gagal."
Grup Kura-Kura Gunung dibentuk. Puluhan gunung mereka daki, di dalam dan luar negeri.
"Alam adalah playground kami. Entah mengapa kalau di alam kami bisa bergembira seperti menari-nari di trek, lupa semua masalah," tulisnya di Instagram.
"Dan itulah kami, kami ga bisa menari, menarinya jelek karena bukan Dancing Queen tapi kami adalah Hiking Queen. Gunung adalah kerajaan kami……"
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!