Candi Panataran, Tempat Pemujaan untuk Meredam Amarah Gunung Kelud
📅 Sabtu, 22 Feb 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Pemkab Blitar
Candi Penataran dikenal sebagai candi termegah dan terluas di Jawa Timur. Pembangunannya dilakukan untuk upacara pemujaan guna menangkal bahaya Gunung Kelud yang meletus pada masa Kerajaan Singasari.
Foto: Pemkab Blitar
Tahun 1334 Masehi Gunung Kelud di Jawa Timur meletus. Olah masyarakat Hindu saat itu hal ini oleh dimaknai oleh masyarakat saat ini sebagai waktunya jelmaan raja dewa lahir di Bumi, menurut naskah kitab Negarakertagama.
Amukan Gunung Kelud yang tiba-tiba menyebabkan kerusakan yang parah, mengakibatkan puluhan ribu jiwa meninggal. Untuk mengatasinya tidak terulang lagi dilakukan berbagai usaha termasuk membangun bendungan untuk menampung lavar, membuat sodetan untuk mengalirkan lahar, dan membangun tempat peribadatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika letusan kembali mengguncang letusannya tidak menimbulkan keparahan. Hal ini membuat heran kalangan istana termasuk Raja Kediri Sri Maharaja Kertajaya. Amukan itu tidak segenas sebelumnya berkat doa dari Pu Iswara Mampanji Jagwata.
Karena Kertajaya begitu terkesan apa yang dilakukan Iswara tempat ia berdoa untuk memuja Bhatara I Palah disakralkan dan dijadikan sima daerah bebas pajak. Wilayah sekitar Palah disakralkan dan dijadikan sima atau daerah bebas pajak. Tempat ini juga dibangun tempat peribadatan berupa candi yang kemudian dikenal dengan Candi Palah atau kini bernama Candi Penataran.
Sebelumnya menjadi Candi Palah telah menjadi tempat pemujaan. Prasasti Palah bertahun 1119 Saka atau 1197 Masehi menyebutkan pemberian sima oleh Sri Srengga kepada rakyat Palah untuk menaungi bangunan suci pemujaan terhadap Bhatara i Palah, yang menurut laporan Ismail Lutfi (1991) disamakan dengan Dewa Siwa yang bergelar Girinata (Raja Gunung) menurut
Sebaiknya Anda baca juga:
Arkeolog meyakini bahwa Candi Penataran dulunya disebut dengan Candi Palah, sebagaimana disebut dalam prasasti Palah. Isi prasasti menyebutkan tahun 1194 saka sebagai tahun pembangunan bangunan ini oleh oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200 Masehi.
Maksud pembangunan adalah sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menangkal atau menghindar dari mara bahaya letusan Gunung Kelud. Gunung ini sampai sekarang memang dikenal sebagai gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu meletus dahsyat merusak kawasan pemukiman dan pertanian.

Foto: Istimewa
Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, pernah singgah ke “Palah” untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati, perwujudan Siwa sebagai Girindra atau Giri Indra artinya dewa penguasa gunung.
Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakertagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pedharmaan (perabuan) Ken Arok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!