Semoga segera Diwujudkan, Guru Besar UGM: Penanganan PMK di RI Perlu Vaksinasi Menyeluruh
📅 Selasa, 07 Jan 2025, 00:13 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Ampelsa
Yogyakarta - Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Aris Haryanto menekankan pentingnya vaksinasi pada hewan ternak secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk penanganan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kembali merebak di Indonesia.
"Vaksinasi itu harus dilakukan dua kali minimal. Jarak antara vaksin pertama dan kedua itu sebulan. Tapi setelah itu tetap harus divaksin setiap enam bulan sekali," kata Aris dalam keterangannya di Yogyakarta, Senin.
Aris menduga lonjakan kasus PMK di berbagai wilayah dipicu proses vaksinasi ternak yang belum menyeluruh dan berkala.
"Kasus PMK kali ini merupakan gelombang kedua, sebelumnya sudah pernah -vaksinasi- dan peternak sekarang sudah terinformasi. Namun karena kasusnya mereda, jumlah vaksinasinya juga menurun," ujarnya.
Penyakit PMK atau bernama lain "apthae epizootica" (AE), "aphthous fever", dan "foot and mouth disease" (FMD), kata Aris, disebabkan oleh virus RNA, genus Apthovirus yang termasuk dalam keluarga Picornaviridae.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun virus ini memiliki berbagai serotipe yakni O, A, C, Southern African Territories (SAT -1, SAT - 2 dan SAT - 3) dan Asia -1, menurut dia, kasus di Indonesia diyakini bertipe O.
Menurut dia, penyebaran PMK sangat cepat dan menular pada hewan ternak baik secara langsung, tidak langsung, maupun melalui udara.
"Virus ini bisa menyebar secara langsung melalui udara. Jika hewan itu ditempatkan berdampingan, kemungkinan tertularnya besar. Bahkan ada kasus di mana penularannya bisa sampai 200 km jaraknya," ucap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cepatnya penularan PMK dalam beberapa tahun terakhir menurut Aris berawal dari kasus pertama di Indonesia yang ditemukan di Jawa Timur dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD), dan gelombang kedua wabah PMK kali ini juga muncul di kedua daerah tersebut.
Aris mengakui pengembangan vaksin PMK terus digalakkan pemerintah dengan mengembangkan jenis vaksin sesuai tipe virus yang muncul dalam kasus nasional.
Sayangnya, produksi vaksin dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan vaksinasi untuk hewan-hewan ruminansia ternak yang rentan terkena PMK.
Soal mitigasi wabah PMK, Aris menilai perlu dilakukan secara bertahap sesuai gejala yang muncul.
Pada tahap pertama, hewan yang terkena PMK akan mengalami demam tinggi, berikutnya akan muncul lepuh atau lesi atau sariawan pada rongga mulut, serta luka pada kuku.
Dia berharap peternak bersikap tanggap dengan memberi analgesik dan antibiotik untuk meredakan nyeri dan demam, serta memisahkan dengan hewan lainnya demi mencegah penularan lebih lanjut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!