Waspadai “Oversupply” dari Tiongkok
📅 Rabu, 20 Nov 2024, 00:00 WIB | Oleh: Muchamad Ismail
Doc: Antara
Berlebihnya produksi di Tiongkok berpotensi memicu predatory pricing sehingga makin menggerus daya saing UMKM yang orientasi ekspor asal Indonesia.
JAKARTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berorientasi ekspor perlu mewaspadai kondisi oversupply atau kelebihan pasokan dari Tiongkok. Karena itu, peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sangat dibutuhkan mendukung eksportir UMKM memprkuat daya saing dan ekspansi negara tujuan ekspor.
Anggota Komisi XI DPR, Muhammad Kholid, menyampaikan pentingnya peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam mendukung UMKM menghadapi tantangan global, terutama di tengah kondisi Tiongkokyang mengalami kelebihan pasokan (oversupply). Berlebihnya produksi di Tiongkok berpotensi menyebabkan penetapan harga yang lebih murah alias predatory pricing sehingga kian mempersulit persaingan pasar.
"Untuk LPEI, jadi Special Mission Vehicle-nya adalah bagaimana membuat (UMKM) yang enggak bankable, UMKM ini bisa naik kelas," ujar Kholid saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Special Mission Vehicle (SMV) di Jakarta, Selasa (19/11).
Kholid menekankan LPEI harus fokus pada upaya mendorong UMKM agar dapat membuka pasar ekspor dan naik kelas. Dia menyoroti pentingnya LPEI untuk memiliki tujuan strategis yang jelas dalam meningkatkan kapasitas UMKM melalui pembiayaan ekspor. Hal ini dianggap krusial mengingat situasi global saat ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kholid mengingatkan bahwa tanpa dukungan totalitas kepada UMKM, pasar domestik Indonesia berpotensi dibanjiri produk-produk murah dari Tiongkok. Kondisi ini dapat semakin memperburuk persaingan dan melemahkan posisi UMKM lokal.
"Oleh karena itu, maka LPEI harus menjadi yang terdepan dalam bagaimana full support kepada UMKM kita," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif LPEI, Riyani Tirtoso, menyampaikan komitmen untuk terus mendorong UMKM membuka pasar ekspor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sampai dengan September 2024, LPEI melaporkan telah menyalurkan pembiayaan ekspor nasional sebesar 57,6 triliun rupiah. Selain itu, asuransi dan penjaminan komersial masing-masing telah disalurkan LPEI sebesar 6,6 triliun rupiah, sementara penjaminan pemerintah (jaminah) tercatat sebesar 2,6 triliun rupiah.
Dari sisi jasa konsultasi, LPEI berhasil membentuk 1.692 desa devisa hingga September 2024. Program ini bertujuan mendorong ekspor berbasis komunitas dengan memberikan pelatihan intensif kepada pelaku ekspor baru.
Kendala Kualitas
Riyani menyampaikan lembaga ini terus menunjukkan kinerja positif meskipun sempat menghadapi tantangan kualitas aset pada tahun-tahun sebelumnya.
“Untuk jasa konsultasi, eksporter baru sudah bisa kami bimbing sebesar 938 pelaku ekspor, dengan desa-desa seperti yang tadi saya sampaikan 1.600, dengan program Coaching Program for New Exporter sebanyak 5.700 peserta, dengan melaksanakan bisnis matching sebanyak 82.000," ujarnya.
Transformasi LPEI yang dimulai sejak 2020 berhasil meningkatkan pembiayaan Goodbank dari 27,7 triliun rupiah menjadi 28,3 triliun rupiah. Sementara program khusus penugasan ekspor telah menyalurkan 20 triliun rupiah ke 180 negara, termasuk pasar non-tradisional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!