Skrining Tiroid Penting untuk Cegah Gangguan Pertumbuhan Anak
📅 Selasa, 05 Nov 2024, 19:47 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Koran Jakarta/Haryo Brono
JAKARTA – Riset Merck menyatakan, penyakit tiroid di kawasan Asia Pasifik tercatat memiliki prevalensi lebih tinggi dibanding prevalensi global. Sebesar 11 persen populasi orang dewasa di kawasan ini menderita hipotiroidisme, sementara prevalensi global berkisar antara 2-4 persen.
Apabila tidak ditangani, maka penyakit tiroid dapat berdampak negatif pada kualitas hidup individu dan memiliki dampak kesehatan, sosial, dan ekonomi yang substansial. Kekurangan hormon tiroid yang dikenal sebagai hipotiroid kongenital, tika tidak dideteksi sejak dini, gangguan kesehatan ini dapat menyebabkan berbagai gangguan tumbuh kembang pada anak emotional quotient (EQ) atau intelligence quotient (IQ) rendah.
Gangguan lainnya adalah memiliki tubuh yang pendek atau cebol, kondisi wajah yang cukup khas dialami pengidap hipotiroid kongenital, seperti muka sembab, bibir yang cenderung tebal, dan hidung yang terlihat pesek. Mengalami kesulitan untuk berbicara, dan gangguan kesehatan mental.
Hal ini menjadi alasan pentingnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dan skrining dini karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi baik bagi ibu maupun bayi yang baru lahir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menyadari hal tersebut, White Paper Tiroid oleh Economist Impact diluncurkan. Tujuannya untuk memberi gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
Senior Vice President, Merck Healthcare APAC Alexandre de Muralt, mengatakan, pihaknya mendukung White Paper Tiroid oleh Economist Impact. Laporan ini memberi gambaran menyeluruh mengenai tantangan utama dan kesenjangan kebijakan untuk mengatasi penyakit tiroid di Asia Pasifik.
White Paper ini diharapkan dapat mendorong diskusi dan perubahan kebijakan yang berdampak di berbagai negara. Dukungan ini sejalan dengan Manifesto Tiroid Merck, sebuah ajakan untuk bertindak dan merupakan strategi menuju pendekatan yang lebih multidisipliner dalam meningkatkan tingkat pengobatan gangguan tiroid.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Manifesto tiroid bertujuan untuk mendiagnosis lebih dari 50 juta orang yang hidup dengan hipotiroidisme pada tahun 2030,” ujar dia pada acara konferensi pers di Jakarta pada hari Selasa (5/11).
White Paper dengan judul lengkap “Closing the gap Prioritising thyroid disease in Asia-Pacific White Paper “Closing the gap Prioritising thyroid disease in Asia-Pacific” ini disusun untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit tiroid, khususnya hipotiroidisme, serta dampaknya terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan ekonomi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
“Dengan menghadirkan data dan hasil riset yang komprehensif, dokumen ini bertujuan untuk memberikan dasar ilmiah bagi pembuat kebijakan dalam memahami pentingnya deteksi dini dan skrining penyakit tiroid. Hal ini terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil dan bayi baru lahir.
“Skrining universal diharapkan dapat mencegah dampak jangka panjang dari penyakit tiroid yang tidak terdiagnosis, sehingga dapat mengurangi beban kesehatan dan ekonomi bagi individu dan masyarakat,” terang dia.
Wakil Menteri Kesehatan, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D. mengatakan, program skrining kesehatan menjadi salah satu tugas yang diberikan oleh Presiden Prabowo saat ini kepada Kementerian Kesehatan, termasuk skrining untuk tiroid. Hingga September 2024, sebanyak 1,7 juta bayi baru lahir telah menjalani skrining hipotiroid kongenital.
Ia memaparkan, skrining ini penting untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang dan penurunan kecerdasan pada bayi. Oleh karena itu, menyambut menyambut baik dukungan Merck atas White Paper Tiroid, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya skrining tiroid.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!