Wajar Petani Menikmati Harga Beras Tinggi
📅 Selasa, 24 Sep 2024, 00:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Mega Tokan
Jakarta - Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Yadi Sofyan Noor menilai bahwa hal wajar apabila petani menikmati harga beras tinggi karena merupakan hasil jerih payah mereka selama bercocok tanam.
Yadi turut menanggapi pernyataan World Bank yang menyatakan bahwa harga beras Indonesia jauh lebih tinggi karena petani kurang sejahtera. Baginya, hal itu merupakan pernyataan yang salah besar.
"Justru saya bertanya apa kontribusi World Bank untuk beras Indonesia? Faktanya, tingginya harga beras menunjukkan daya beli petani dalam kondisi baik. Ini juga merupakan sinyal bagus untuk petani yang terus berproduksi," kata Yadi dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Yadi menilai tingginya harga beras di Indonesia merupakan sinyal yang sangat bagus bagi para petani yang setiap hari terus berproduksi. Dengan begitu, petani bisa menikmati hasil keringatnya sendiri.
"Saat ini di lapangan harga GKP (gabah kering panen) antara Rp6.500 (per kilogram) sampai dengan Rp7.000 (per kg). Jadi, masih aman. Kalau urusan beras sudah urusan penggilingan padi dan pedagang," ujar Yadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yadi mengatakan parameter naiknya kesejahteraan petani bisa dilihat dari berbagai rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) baik mengenai Nilai Tukar Petani (NTP) maupun Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yang cenderung mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.
Bahkan tahun ini, kenaikan NTP merupakan yang tertinggi selama 10 tahun terakhir, di mana NTP pada periode awal Presiden Joko Widodo menjabat hanya sebesar 102,87 atau kenaikannya hanya 0,50 persen.
Sedangkan NTP pada tahun ini rata-rata angkanya sangat tinggi, di mana NTP bulan April menjadi yang tertinggi yaitu sebesar 137,77 atau naik 0,40 persen. Begitu juga dengan bulan Agustus yang mencapai 138,91 atau naik 0,76 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kalau kita bandingkan dengan periode awal Presiden Jokowi pada 2014 lalu, NTP tahun ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir," katanya.
BPS merilis kenaikan NTP rata-rata dipengaruhi komoditas gabah. Kenaikan NTP merupakan bukti bahwa komoditas beras selama ini masih menjadi tumpuan sekaligus harapan petani yang sangat menjanjikan terutama dalam hal peningkatan daya saing komoditas, peluang pasar ekspor dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"NTP merupakan indikator utama meningkatnya kesejahteraan petani di Indonesia. NTP juga merupakan bagian penting dalam menentukan sebuah kebijakan yang berfokus pada produksi," terang Yadi.
Senada dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga menyatakan bahwa kenaikan harga beras menjadi masa-masa yang paling membahagiakan bagi para petani Indonesia.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas Rachmi Widiriani mengatakan bahwa tingginya harga beras merupakan imbas dari biaya produksi yang juga semakin tinggi.
Karena itu, dia menyebut para petani memiliki hak mendapatkan keuntungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!