Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ahli: Komunikasi Kunci Diagnosis yang Tepat Serta Keselamatan Pasien

📅 Jumat, 13 Sep 2024, 21:11 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ahli: Komunikasi Kunci Diagnosis yang Tepat Serta Keselamatan Pasien Doc: Antara/Diskominfo Kota Madiun

JAKARTA - Ketua Komite Mutu dan Keselamatan RSCM/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Hervita Diatri, mengatakan pasien adalah yang paling mengetahui tentang kondisi kesehatannya, sehingga tidak perlu malu saat berkomunikasi dengan tenaga kesehatan guna mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat.

Dalam siaran oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (13/9), Hervita mengatakan bahwa komunikasi merupakan kunci dalam memastikan keselamatan pasien. Menurut WHO, katanya, kesalahan diagnosis bukan hanya karena dokternya tidak ahli, namun juga karena kejujuran pasien.

Menurut data, ujar dia, terdapat kesalahan diagnosis sebesar 16 persen. Apabila ada 10 pasien maka sekitar 1-2 pasien menerima diagnosis yang salah.

"Penelitian yang terakhir itu mencoba memotret dari tahun 2015 sampai 2024 ini. Jadi kita bisa lihat bahwa dalam waktu kurang dari 10 tahun angkanya masih tidak terlalu banyak berubah," kata dia.

Hervita menyebutkan ada sejumlah alasan pasien tidak mau jujur mengenai kondisinya. Salah satunya adalah karena takut mendengar kabar buruk. Namun dia mengingatkan bahwa bukan berarti dengan tidak mendengar kabar apapun, artinya mereka baik-baik saja.

Ketakutan itu, katanya, yang menyebabkan seseorang melakukan diagnosis sendiri (self-diagnosis). Dia mencontohkan, yang ditakutkan pasien itu adalah ketika mereka sakit kepala, bisa jadi hal itu adalah tumor, dan pada akhirnya menjadi stres.

"Padahal situasinya belum tentu sama gitu kan. Kan lebih baik kita tahu pun kalau memang betul bad news yang harus kita dengar. Kan siapa tahu kita bisa melakukan terapi," kata dia.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan bahwa penting bagi orang-orang untuk memiliki literasi yang baik mengenai kesehatannya, seperti alergi yang dimiliki, penyakit keturunan, dan lain-lain.

"Sehingga dokter juga akan bisa mencarikan obat yang tidak akan menimbulkan efek samping. Alergi atau komplikasi kepada pasien. Jadi belajar bareng," kata dia.

Hervita menjelaskan bahwa dokter mempelajari ribuan, bahkan jutaan penyakit. Oleh karena itu, keluhan pasien adalah kunci utama dalam diagnosis, di mana cerita pasien, hasil laboratorium, dan data dikelompokkan guna mengetahui secara pasti jenis penyakitnya.

Dia mencontohkan apabila pasien menyertakan keluhan dan keterangannya, maka dokter mengetahui secara pasti apabila demam yang diderita adalah demam biasa atau gejala tipes.

Jika pasien tidak memberikan keterangan, maka pemeriksaan laboratorium juga menjadi lebih banyak dan mahal. Apabila pasien menceritakan semuanya, kata dia, maka diagnosisnya lebih tepat dan terapi yang diberikan juga lebih baik, sehingga tidak memberikan obat yang tidak perlu. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.