Penggunaan AI oleh Mahasiswa Rentan Risiko, Perlu Penguatan Etika
📅 Kamis, 29 Agu 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim PenulisNamun, dengan bergantung penuh terhadap AI, kemampuan berkolaborasi dan berpikir kritis mereka dapat berkurang. Bagaimanapun, AI memiliki keterbatasan dalam mendukung proses pembelajaran yang proporsional untuk melatih berpikir kritis. Pengguna bisa saja memerintahkan AI untuk menyusun dan membuat presentasi yang mereka inginkan, tetapi keaslian pemikiran dan kolaborasi mereka hanya sedikit.
Hal yang sama juga terjadi dalam pembuatan makalah. Model pembelajaran ini diharapkan dapat melatih kemampuan riset, mengolah informasi dan juga kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Namun, dengan adanya chatbot berbasis AI, mahasiswa dapat membuat makalah hanya dalam beberapa menit.
Cara menguatkan aspek etika dalam penggunaan AI
Dengan adanya berbagai risiko di atas, penguatan aspek etika dalam penggunaan AI menjadi substansial dalam pengajaran perguruan tinggi di Indonesia. Pertama, terkait dengan proteksi data, perguruan tinggi perlu melakukan edukasi dan penyadaran sedini mungkin untuk mencegah kebocoran data dari penggunaan AI.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini bisa dilakukan melalui pembuatan video, buku panduan, hingga kampanye lisan terkait perlindungan data pribadi di dunia digital. Di Jerman dan Afrika Selatan, contohnya, perguruan tinggi telah mewajibkan perlindungan data pribadi bagi para mahasiswanya apabila si pengajar menguji mereka dengan teknologi berbasis AI.
Perguruan tinggi juga perlu menyadari bahwa robot mempunyai keterbatasan dalam mengatasi permasalahan mental para mahasiswanya. Dalam dunia kesehatan, masalah mental tetap memerlukan penanganan dari manusia (contoh: psikolog), karena ada isu empati dan emosi yang lebih optimal apabila ditangani oleh manusia.
Alih-alih memberikan diagnosis, AI dapat membantu mengerjakan tugas administratif seperti pencatatan medis pasien. Hal ini dapat membantu akurasi administrasi dan pencatatan rekam medis pasiennya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terkait keaslian karya, integritas akademis harus menjadi nilai utama. Setiap mahasiswa yang menggunakan AI untuk pengerjaan tugas perlu menyebutkan hal tersebut di dalam tugasnya (disclaimer). Selain itu, pengguna AI tetap perlu membaca dan mencantumkan referensi penulis artikel dari kalimat yang dikutip oleh AI. Sehingga, AI hanya menjadi alat bantu, bukan pelaku utama dalam mengerjakan tugas.![]()
Albert Hasudungan, Dosen, Universitas Prasetiya Mulya
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!