Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Prancis Harus Beri Bukti Penangkapan CEO Telegram Bukan Politik

📅 Rabu, 28 Agu 2024, 00:11 WIB | Oleh: Tim Penulis
Prancis Harus Beri Bukti Penangkapan CEO Telegram Bukan Politik Doc: ANTARA/Galih Pradipta
Ket. Arsip - CEO Telegram Pavel Durov memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Menkominfo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (1/8/2017). Pertemuan tersebut guna membahas Standard Operating Procedure (SOP) yang harus diikuti Telegram agar dapat beraktivitas kembali di Indonesia.

Moskow - Prancis harus memberikan bukti substansial untuk membuktikan bahwa penangkapan Pavel Durov, pendiri dan CEO aplikasi terenkripsi Telegram, tidak "bermotif politik," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Selasa.

Peskov mendeskripsikan tuduhan otoritas Prancis sebagai "sangat serius" pada jumpa pers di Moskow, menekankan perlunya bukti yang sama pentingnya.

"Jika tidak, ini akan menjadi upaya langsung untuk membatasi kebebasan berkomunikasi dan, sejujurnya, tindakan intimidasi terhadap pimpinan perusahaan besar. Ini adalah jenis manuver politik yang dibantah (Presiden Prancis Emmanuel) Macron kemarin," katanya.

Macron mengklaim pada Senin (26/8) bahwa penahanan Durov disebabkan oleh penyelidikan yang sedang berlangsung dan tidak memiliki motif politik.

Peskov mencatat bahwa, meski Rusia siap membantu Durov, situasinya menjadi rumit karena dia juga memegang kewarganegaraan Prancis.

"Kami berharap Tn. Durov memiliki semua sumber daya yang diperlukan untuk mempersiapkan pembelaan hukumnya," tambahnya.

Di tengah kekhawatiran bahwa komunikasi tokoh masyarakat Rusia dapat disadap oleh badan intelijen Barat jika Durov bekerja sama, juru bicara Kremlin itu menyarankan para pejabat untuk tidak menggunakan layanan pesan apa pun untuk keperluan resmi.

"Tidak ada layanan pesan yang aman dari sudut pandang keamanan informasi, termasuk Telegram," dia memperingatkan.

Mengenai keputusan pemerintah Ukraina untuk melarang Gereka Ortodoks Ukraina dari Patriarkat Moskow, Peskov mengutuk tindakan Kiev sebagai "serangan terang-terangan" terhadap agama Kristen dan kebebasan beragama.

Dia mencatat bahwa Rusia memandang undang-undang yang melegitimasi larangan tersebut sebagai "sama sekali tidak dapat diterima" dan bahwa "sayangnya, rezim Kiev terus mengungkapkan sifat aslinya."

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.