Misi yang Dekat dengan Kegagalan
Senin, 26 Agu 2024, 06:25 WIBSulit untuk mendarat di Bulan dan menjaga wahana antariksa tetap utuh. Beberapa hari yang lalu, misi Luna-25 Russia jatuh, memupus harapan untuk perjalanan pertama negara itu ke Bulan sejak 1976, saat negara itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet.
Pada bulan April, upaya swasta Jepang juga mendarat darurat di permukaan bulan. Itulah salah satu alasan keberhasilan pendaratan misi Chandrayaan-3 oleh Organisasi Penelitian Antariksa India (Indian Space Research Organisation/ISRO) begitu istimewa.
Pendaratan terjadi tepat setelah pukul 6 sore waktu India pada tanggal 23 Agustus di dekat kutub selatan Bulan, menjadikan India sebagai negara keempat (setelah Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Tiongkok) yang berhasil mendarat di Bulan secara terkendali.
Lebih jauh lagi, India adalah negara pertama yang mendarat di garis lintang tinggi, sekitar 600 kilometer dari kutub. Hal itu penting karena wilayah kutub diperkirakan mengandung es yang dapat menjadi sumber daya untuk eksplorasi Bulan di masa mendatang, misalnya sebagai sumber komponen bahan bakar roket.
Sebelumnya hari ini, modul pendaratan misi Vikram, yang dinamai menurut fisikawan Vikram Sarabhai, yang dianggap sebagai pendiri program luar angkasa India, mengerahkan penjelajah kecil yang akan mempelajari bebatuan dan tanah Bulan. Misi bertenaga surya tersebut dimaksudkan untuk berlangsung selama dua pekan hingga malam Bulan menyinari bagian permukaan ini.
Seperti badan antariksa AS dan Russia, ISRO telah belajar dari kegagalan sebelumnya. Pendarat Chandrayaan-2 jatuh pada September 2019, ketika perangkat lunaknya tidak dapat mendiagnosis dan memperbaiki masalah dengan pendorongnya saat wahana itu turun ke permukaan Bulan.
Belajar dari kegagalan itu para Insinyur ISRO menambahkan banyak sistem cadangan ke Chandrayaan-3. Mereka melakukan pengujian ketat agar wahana antariksa itu dapat merespons jika terjadi kesalahan.
Puluhan misi ke Bulan direncanakan dalam beberapa tahun mendatang. Upaya berikutnya akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan, saat Jepang bermaksud mengirim wahana antariksa untuk menguji teknik pendaratan yang akurat.
Namun, eksplorasi Bulan dapat dilihat sebagai tempat pembuktian baru bagi sains dan teknik. Misi ISRO sebelumnya telah menghasilkan sains Bulan yang baru. Misi Bulan pertama India, wahana pengorbit Chandrayaan-1, diluncurkan pada tahun 2008 dan membantu mengkonfirmasi keberadaan air di Bulan dengan data yang dikumpulkan oleh instrumen NASA di dalamnya.
Sementara itu, komponen pengorbit Chandrayaan-2, yang berfungsi meskipun wahana pendarat itu jatuh, terus memetakan dan mempelajari permukaan bulan. Jika Chandrayaan-3 terus berfungsi dengan baik, wahana itu akan mengumpulkan data tentang kimia dan mineralogi permukaan. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Bupati Pati Sudewo Ogah Mundur, Pakar Hukum Sebut Bisa Diberhentikan Karena Kebijakan Tak Libatkan Rakyat
-
BP Tapera Cetak Rekor Penyaluran Rumah Subsidi 2025: Hampir 280 Ribu Unit Tersalur
-
Ribuan Orang Ditangkap dalam Aksi Protes Nasional di Iran
-
Menhan dan Panglima TNI Bahas Kerja Sama Pertahanan dengan Filipina
-
19-20 Desember Diprediksi Dishub DKI Puncak Arus Mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026
-
Kukar Bergerak! Rencana Gila Optimalkan Lahan Demi Swasembada Pangan Kaltim
-
Katy Perry Ikut Penerbangan ke Luar Angkasa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.