Bank Sentral Eropa Tetap Menahan Suku Bunga Acuan

Senin, 22 Jul 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Bank Sentral Eropa atau European Central Bank/ECB), pada Kamis (18/7), dalam pertemuan rutin bulanan pada pekan lalu, memutuskan untuk tidak mengubah tingkat suku bunga utama atau acuan. Kebijakan mempertahankan suku bunga itu karena masih adanya tekanan kenaikan harga atau inflasi.

Presiden ECB, Christine Lagarde, dalam keterangan persnya di Kantor Pusat ECB di Frankfurt, Jerman, pekan lalu, mengatakan tingkat suku bunga main refinancing operations, serta suku bunga pada marginal lending facility dan depocit facility tidak berubah, masing-masing di level 4,25 persen, 4,5 persen, dan 3,75 persen.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: European Central Bank - AFP

Keputusan itu sembari mengonfirmasi bahwa penilaian sebelumnya perihal prospek inflasi jangka menengah telah didukung oleh data-data baru, dan ECB siap mempertahankan tingkat suku bunga yang cukup ketat selama diperlukan.

ECB menyebut beberapa ukuran inflasi dasar mengalami peningkatan pada Mei dan tekanan harga masih tercatat tinggi di kawasan itu. "Inflasi umum kemungkinan tetap berada di atas target hingga tahun depan," sebut pernyataan ECB.

Dalam sebuah perubahan kebijakan yang penting, ECB memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni, pemangkasan suku bunga pertamanya sejak September 2019.

Bank sentral itu menegaskan pihaknya tidak berkomitmen sebelumnya pada jalur suku bunga tertentu, sebuah indikasi bahwa pengurangan kebijakan moneternya yang ketat kemungkinan tidak akan linear mengingat tekanan harga masih tinggi.

Dampak ke Indonesia

Menanggapi kebijakan ECB mempertahankan suku bunga acuan, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan tentu hal itu akan berdampak pada kebijakan moneter dalam negeri dan juga ke sektor riil.

Di bidang moneter, kebijakan ECB menahan suku bunga harus diperhitungkan Bank Indonesia. Sebab, bagaimana pun zona Euro merupakan salah satu penentu ekonomi dunia selain ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

"Jika suku bunga acuan ECB tetap tinggi maka negara-negara emerging market seperti Indonesia jangan terburu-buru menurunkan suku bunga, minimal menahan agar tetap kompetitif," kata Badiul.

Selain di bidang keuangan, dampaknya ke perekonomian Indonesia adalah ke utang, terutama dalam pembayaran suku bunga. Begitu juga ke neraca perdagangan yang mencatat aktivitas ekspor-impor Indonesia dengan zona Euro.

"Impor selama ini yang cukup kuat dari negara Eropa seperti Swiss adalah di bidang teknologi, alat kesehatan, ekonomi digital, dan teknologi rendah karbon. Kalau suku bunga mereka tetap tinggi, berarti harga yang dibayarkan untuk mengimpor barang dari sana tetap tinggi," kata Badiul.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan tingkat suku bunga berkisar 3-4 persen di Eropa lumayan tinggi, sehingga harus diimbangi agar tidak terjadi pelarian modal dari pasar keuangan dalam negeri.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Kabar Baik! Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.